Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Mahasiswa dan Partai Politik

Gambar
from google “Sebuah pencerdasan terhadap bangsa tidak akan terwujud ketika sesuatu hal yang dianggap tabu bukannya dikupas dan dihadapkan kepada masyarakat secara kritis dan argumentatif, malah dihindarkan atau bahkan diilegalkan .”  Prof. Dr. Magnis Suseno, SJ . Pernyataan di atas mungkin dapat menyadarkan kita tentang banyaknya permasalahan politik yang terjadi di negeri ini. Permasalahan politik yang seolah-olah disembunyikan oleh berbagai golongan, baik itu kalangan atas, bawah, bahkan oleh mahasiswa sendiri, yang dipandang sebagai agen of change untuk kemajuan bangsa ini.

Nasionalisme Semu

Gambar
from google Suatu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa , dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia itulah yang diartikan sebagai nasionalisme.  Namun, pada kenyataannya di negara Indonsia tidaklah demikian, sikap nasionalisme yang ditunjukkan oleh anak bangsa tidak lebih dari nasionalisme semu.

Berawal dari Titik Nol

Gambar
               Muhammad Rezky                               Nol menuju satu, merupakan motto hidup dari seorang Muhammad Rezky . Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Informatika TM 2011 ini berkeyakinan, ketika lahir posisi setiap orang adalah nol, ketika mereka telah tumbuh dan dewasa maka posisi mereka menuju satu, yaitu setiap orang harus memiliki prinsip dan tujuan hidup yang pasti dalam hidupnya. Pria kelahiran Padang, 21 tahun silam ini membuktikan tekadnya tersebut dengan cara fokus dalam setiap hal yang dia l akukan. Dia tidak pernah bermain-main dan berbuat setengah-setengah dalam menjalani hidupnya. 

Aku yang Masih Mencari...

Gambar
Setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya. Apakah dia sadar terhadap pilihan tersebut, atau bahkan buta sama sekali. Yang jelas, mereka pasti memilih. Bicara tentang pilihan, aku juga punya pilihan tersendiri dalam hidupku.                                                Where are you go? - Make your choice!

Sang Pejuang

Gambar
Without me, not perfect :) "Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncang dunia.”- Soekarno Dari sini aku berasal. Dari pengalaman yang akhirnya membesarkan aku hingga sekarang. Seperti apa aku sekarang? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menilainya. Yang aku tau, salah satu seniorku menyebutnya, “Dia (aku-red) telah dibesarkan disini semenjak aku mulai merangkak.” Berada pada sebuah kelompok yang disebut organisasi. Disini, aku belajar tentang arti berjuang, memberi, menerima, mengenal, dikenal, dan mengabdi. Aku belajar untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, sesuatu yang belum terjadi menjadi terlaksana. Aku memberi untuk mewujudkan tujuan bersama. Menerima untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman baru. Mengenal sosok baru yang sama sekali asing sebelumnya. Dikenal dengan keberadaan ku. Dan mengabdi untuk tanah, dimana aku dilahirkan.

Untuk Sebuah Perjuangan

Gambar
USP #1  “LPJ” Sebulan, dua bulan, hingga mendekati satu tahun. Sekarang tak tahun 2014 lagi. Sekarang sudah 2015. Namun, harapan yang dibungkus dengan sedikit perjuangan itu nampaknya sedikit sia-sia. Sebab, hingga sekarang dia belum selesai juga.  Belum diterima juga.  Dia, si LPJ. Tidak mudah untuk membawa berkas hasil rangkupan data pelaporan acara itu. Kalau hanya sekadar membawa, mungkin bisa jadi tidak sulit. Tapi parahnya, hampir tiap hari, setelah acara yang pernah aku ketuai tahun lalu itu, memaksa aku untuk rutin mengunjungi kantor BAAK tempat aku berkuliah. Hampir tiap hari. Dan parahnya, tidak hanya aku yang merasakan sedikit penyiks**n ini. Dua temanku juga kena imbasnya. R dan K yang ikut menjadi DPH acara itu, ikut merasakannya.

Diam-diam Terluka

Gambar
Perasaan asing selalu muncul tiap kali kau bersikap seolah-olah kita adalah orang asing.  Ada rasa aneh dan ganjal terbesit di sana. Seakan aku tak ingin kenal kau saja dari awal jika rasa itu mulai muncul. Seakan kebersamaan yang pernah kita rajut menjadi hal yang ingin aku sesali. Perasaan ku saja atau itu benar-benar sengaja kau lakukan. Kau datang tiap kali aku pergi dan kau pergi tiap kali aku datang. Itu membingungkan. Jika pantas untuk ku ajukan, aku ingin tanyakan, kau buang kemana tatapan hangat mu yang dulu? Apakah kau sengaja menguburnya bersama dengan waktu kita yang sekarang kian menua? Jika kau jawab ia, aku akan belajar dari sekarang untuk berhenti peduli padamu. Aku akan buang semua memori tentang hari-hari yang pernah kita jalani. Sebab sungguh aku mulai muak dengan keadaan ini. Dengan kenyataan itu.