Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Jangkrik Hutan

Gambar
google Kau paham, sayang Apa-apa yang sudah tenggelam Hilang bagai sejarah usang Seperti syair-syair, yang terkoyak di matamu Tapi kau,   tak pernah bosan berucap rindu Seperti suaranya,   yang tak pernah jengah untuk ku dengar __________________ #5 Padang, 2017

Janji

Maafkan aku, Bi Tak hanya kau yang memenjarakanku dengan kata-kata Aku pun mendekapmu dalam puisi ini Tak perlu lagi bersandiwara _____________________ #4 Padang, 2017

Mantel Hujan

Di sisi gunung Antara sekap uap pohon pinus Aku marah karenamu Kau senyumi jurang dari pelukan _______________________ untuk S #3 Padang, 2017

Solok

Mataku menerawang Dingin menyelinap ke setiap sudut Kau berselimut setelahnya, jalan masih panjang _____________________ untuk R #2 Padang, 2017

Un

Habibi, semua tak bermula Dan suka, juga cinta Dan sakit, juga palsu Tak usah letih mengakhiri Biar pupus dengan sendirinya _______________________ #1 Padang, 2017

Sang K

Gambar
google Siapa nanti yang akan kau tulis Pada syair-syair palsumu Yang kau sembunyikan di balik Kata cinta merayu Bukan dia, bukan aku, bukan siapa-siapa Yang lainnya Hanya kau bersama deretan rasa ragu Kau peluk Satu, dua, tiga rasa hingga sepuluh Dan terakhir pada siapa? Lalu kemana lagi? Jangan bertanya pada matahari Di sudut jemarimu Ada lalat berseru sendu Waktu tidak akan memberi alasan Kemana kau hendak melangkah Jutaan malam pernah Tenggelam dalam remang Juga senja, selalu berlalu Tanpa tepi Apakah kau menunggu mimpi kelabu Membiusmu hingga bisu, Hidup bukan perihal mendapatkan Dan mencampakkan Juga kau, Aku kehabisan kata-kata Padang , 2017  #pada Maret yang kiat beranjak.

Hilang

Gambar
google Adakah sesuatu yang lebih puitis Dari suara musik di pinggir sungai, Saat lampu-lampu rumah di atas bukit Seperti kunang-kunang yang berterbangan Sementara aku, menulis kata-kata perpisahan Dan kau, menatap jauh, menyaksikan perahu yang menepi ke pelabuhan Padang, 2017 # dalam remang bulan yang paling sempurna

Selat Sunda

Gambar
google Kali ini kau sudah mulai jujur sayang Seiring gombalan dan kata nakalmu yang tak lelah kau lemparkan Aku  tak menggerai rambut panjang Apalagi minyak wangi yang membuat kau melayang Tapi kau berucap, tak sanggup menatap bola mataku kapal yang kita tumpangi berlayar menjauhi pelabuhan pastinya kan menepi ke pelabuhan berikutnya begitu juga hatimu, kau berkata ada banyak pelabuhan yang akan kau singgahi setelah ini tubuh kita kian terguncang di hempas gelombang aku pura-pura tidur menikmati setiap hembusan nafasmu tak berjarak 30 senti dari wajahku kau pura-pura menulis aku paham, kau ingin menyentuh ujung hidungku apakah kita sudah sampai sayang? Aku pura-pura bangun Kau membawaku menatap laut lepas Mendongengkan hidup yang sesungguhnya Katamu, inilah hidup Beginilah cinta Kita tak lagi berlayar sayang Kita pindah ke perjalanan berikutnya Kau menelanku Jemariku tenggelam di telapak tanganmu Sedang dadaku hampa ...