Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Kamu #5

Gambar
Google Kita kembali, menebas jarak yang selama ini pernah berada di pelukan. Aku ingin memelukmu untuk melepas semua sesak karena rindu. Membagi seribu cerita selama kau tak ada. Menjadi satu-satunya perempuan yang berani merengek sok manja kepadamu. Kau telah kembali. Terimakasih untuk itu, Bar. Namun, ini sama sekali berbeda. Kita, kita bukan lagi kita yang dulu, Bar. Bukan, maksudku kita masih yang dulu. Hanya saja, perasaan ini yang sama sekali berbeda. Tak peduli, siapakah yang duluan terusik oleh sososk lain. Sebab, sejak awal pun memang tidak sepantasnya kita berpikir untuk menjadi lebih dari sepasang sahabat.

Kau, Aku, dan Lelaki

Gambar
google Selain perjalanan panjang, aku masih memiliki seribu waktu untuk mendengar ceritamu. Barangkali juga kau, yang kadang berkata muak terhadap ocehanku. Begitu juga malam ini, kita kembali berada pada pendaran waktu dengan masa yang tak berbeda. “Qlue yang kau ucapkan terlalu berat, Ran...” ujarku sambil tiduran di sebelahmu. “Ya, itu yang gue rasa. Terserah, elo mau berpendapat apa,” kau berucap tanpa menoleh kepadaku.  Laptop di depanmu sepertinya memang lebih menggoda dibanding tema yang kau lempar secara sembarang malam ini.

Sepenggal Cerita

Gambar
Setidaknya, lebih dari 24 jam aku berada di tanah ini. Pulau Weh, orang-orang menyebutnya pulau terujung nusantara. Pulau dengan keindahan pantai yang menggoda, dengan berbagai destinasi wisata yang asri belum terlalu dijamah.  Sabang, syurga di pulau paling barat Indonesia.

Pada Senja #3

Gambar
Dalam Diammu google Aku merindu, dalam diam yang sengaja kau cipta Taukah tak ada yang lebih menyakitkan selain didiamkan Kau sengaja membatu, dan membuat dadaku runtuh Malam berlalu dalam beku Senja usai seperti badai yang menyerang jiwa Aku sakit karenamu, kau tak peduli Aku runtuh, kau masih pada diammu Candamu kau bawa kemana? Apakah setelah ini masih ada besok untuk kita? Apakah lusa itu masih ada? Aku sanksi, dan kau masih diam dalam kelam Padang, 2016

Pada Senja #2

Gambar
Sesaat, Diam Bersama Air Mata google Dadaku runtuh, sebuah pilu menyedot semua ruang yang ada Hujan deras mengguyur di sana, hingga daun-daun itu gugur tanpa sisa Sesaat, ku mendengar suara familiarmu Pada hatiku, ku tak sanggap menahan untuk tak menyebut namamu dalam isak yang menderu Lalu kau datang penuh tanya, katamu air mata bukan sesuatu yang hina

Pada Senja #1

Gambar
Kita Takkan Pernah google Pada tangga menuju pintu rumahmu Ku titip sisa-sisa rindu terhadap jejak yang pernah ku ukir di sana Saat panas membakar tubuh, berganti hangat menyelimuti dada Sebab suaranya, mereka yang baru ku kenal pertama kalinya

Oktober kan Beranjak

Gambar
google Sebentar lagi Oktober kan berlalu Tertutup debu, jejak jalan basah sisakan cerita. Lalu, jadi sejarah baru tertata apik dalam kenangan.

Sebuah Nama

Gambar
Di penghujung Agustus, kau semaikan sebuah nama nan damai. Ku temukan tiga huruf itu, terangkai indah di pintu kamarku. Sebuah panggilan,  malam,  menit,  juga detik pertama  aku menatap kehidupan Enam tahun lalu,  aku temukan sesuatu yang baru. Maaf, aku hianati hadiah darimu Padang, 2016