Bersamanya
Pernahkah kau berpikir tentang batas-batas waktu yang ditakdirkan Tuhan? Bagaimana pada awalnya kau berjumpa, mengenal, menerima, dan menjatuhkan hati pada sesuatu. Hingga akhirnya sang waktu memberi batas untuk mengakhiri semua. Bagaimana kau menikmati setiap keadaanmu bersamanya, hingga kau tumbuh dan mensyukuri semua proses yang tercipta. Lalu perpisahan menghampiri tanpa kau duga. Aku pernah, terbangun dan lantas tak peduli, apakah orang-orang di sekelilingku masih ada atau justru telah berlalu. Aku pernah pergi, dan selalu berpikir untuk kembali. Dan aku pernah, menjadi seseorang yang akhirnya tidak bisa benar-benar pergi, darinya. Karena ia adalah tempatku untuk kembali. Ruangku untuk berbagi sepi. Di masing-masing sudutnya, aku pernah memejamkan mata. Menderai tawa. Menumpahkan air mata. Dan bahkan memuntahkan amarah. Aku tak ingat, sudah berapa banyak senja yang lindap bersama tik-tik suara keyboard sebelum keheninga...