Untuk Sebuah Perjuangan
USP #1
“LPJ”
Sebulan,
dua bulan, hingga mendekati satu tahun. Sekarang tak tahun 2014 lagi. Sekarang
sudah 2015. Namun, harapan yang dibungkus dengan sedikit perjuangan itu
nampaknya sedikit sia-sia. Sebab, hingga sekarang dia belum selesai juga.
Belum
diterima juga.
Dia, si LPJ.
Tidak
mudah untuk membawa berkas hasil rangkupan data pelaporan acara itu. Kalau
hanya sekadar membawa, mungkin bisa jadi tidak sulit. Tapi parahnya, hampir
tiap hari, setelah acara yang pernah aku ketuai tahun lalu itu, memaksa aku
untuk rutin mengunjungi kantor BAAK tempat aku berkuliah. Hampir tiap hari.
Dan
parahnya, tidak hanya aku yang merasakan sedikit penyiks**n ini. Dua temanku
juga kena imbasnya. R dan K yang ikut menjadi DPH acara itu, ikut merasakannya.
Awalnya memang biasa-biasa aja, santai dan harapan itu masih besar. Namun, beberapa bulan kemudian, lelah mulai terasa dan harapan itu sedikit memudar. Karena kami semakin tertinggal oleh waktu.
Tak
jarang aku mengeluh bahkan menangis. Hingga tulisan ini pun lahir. Anggap saja sebagai bentuk penumpahkan
semua perasaan.
Menceritakannya berulangkali sama teman dan kakak pun rasanya
sudah membosankan. Pastinya dengan kisah dan alur yang sama. Angin-angin
keputus asaan.
Akhirnya,
aku dan kawan-kawan hanya bisa berharap, semoga keadaan ini cepat barakhir. Dan
tidak menjadi perjuangan yang sia-sia. *
(Awal 2015)
USP #2
Berawal dari...
Tidak
ada yang sia-sia dalam hidup ini.
Kata-kata yang sering digunakan oleh seseorang untuk
menyemangati orang lain atau bahkan dirinya sendiri.
Ya, setidaknya mereka gunakaan saat kecewa atau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan sekarang
aku merasakan itu.
Aku menyadari tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Bahkan
untuk sesuatu yang tidak kita sukai.
Perjuanganku
dari 2014 lampau, yang belum membuahkan hasil hingga sekarang, kini mengusik
pikiranku lagi. Tapi kali ini bukan untuk sesuatu yang patut aku keluhkan.
Sekarang aku bersyukur. Keadaan yang dulu sempat menjadi buah pikiran dan
membuatku stress, sekarang justru sebaliknya. Sekarang aku merasa sedikit
terbantu dengan keadaan yang dulu aku sebut sebagai pederit**n itu.
Bagaima
tidak, lelah yang dulu aku rasakan, sekarang terobati.
Mengurus
LPJ acara yang tidak pernah di-acc oleh bagian BAAK tempat aku kuliah merupakan
hal yang cukup melelahkan.
Sebagai ketua pelaksana acara yang didanai D*PA tersebut, aku
memiliki tanggung jawab yang lebih untuk itu. Hingga membuatku berulangkali
mengantarkannya ke pihak BAAK.
Nasib
baik tak kunjung berpihak kepadaku, membuatku semakin jemu. Setiap datang ke
sana, LPJ-ku selalu ditolak dan diperbaiki lagi.
Hingga lelah itu telah sampai
pada puncaknya. Bahkan sempat aku mengatakan kalau aku sudah mu*k dengan hal
itu.
Tapi
tidak untuk sekarang, aku justru merasa beruntung dengan keadaan itu. Aku tarik
lagi kata-kata” mua*knya”. Ehehe..
D*PA,
sekarang aku lumayan sering terlibat dengan kata-kata itu. Ya, di tempat aku
Praktek Lapangan manajemen sekarang, mengurus hal-hal yang demikian adalah
pekerjaan yang sedang aku geluti. Surat menyurat yang menggunakan berbagai
nomor D*PA.
Huh..
benar-benar tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. bahkan keadan yang awalnya
kita anggap sebagai penderit**n, bisa jadi suatu saat itu adalah hal yang kau
syukuri.
Hmmm...
oleh karena itu, belajarlah dari hal-hal kecil. *
(Pertengahan 2015)
.
USP #3
Di Balik Ucapan Syukur
Hari
yang sudah lama ditunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pihak BAAK akhirnya
memberikan kabar gembira.
LPJ yang beberapa bulan belakangan aku urus, telah di
terima dan di-acc.
“Sisa dana acara anda tahun kemaren boleh diambil,” demikian
salah satu pegawai di sana memberi kabar.
“Alhamdulillah, akhirnya,” syukur
yang sangat besar aku ucapkan kepada Sang pencipta.
Sesuatu
yang dilakukan dengan sungguh-sunggu tidak akan pernah berbuah sia-sia. Ya,
pernah merasa bodoh saja saat aku tidak henti-hentinya mengeluh saat itu.
(Pertengahan
2015)



Komentar
Posting Komentar