Nasionalisme Semu

from google

Suatu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia itulah yang diartikan sebagai nasionalisme. Namun, pada kenyataannya di negara Indonsia tidaklah demikian, sikap nasionalisme yang ditunjukkan oleh anak bangsa tidak lebih dari nasionalisme semu.


Jaman sekarang, nasionalisme di Indonsia hanya tinggal sebagai suatu kata abstrak semata, yang entah ada maknanya atau tidak. Hal ini terlihat dari kurangnya rasa cinta dan memiliki dari anak bangsa yang mulai hanyut oleh perubahan kehidupan, ego, dan kepentingan pribadi. Seperti; banyaknya kasus korupsi yang tak kunjung usai, perpecahan masyarakat yang terjadi dimana-mana, dan kebudayaan yang kian luntur.

Nasionalisme yang dulunya mampu membawa kemerdekaan untuk negeri ini sekarang hanyalah sebuah memori yang seolah tidak disentuh oleh ingatan anak bangsa. Ironisnya, sikap nasionalisme hanya melekat ketika ada moment tertentu yang membawa-bawa nama negara seperti Sea Games dan sebagainya. Namun sebelum masa itu, nasionalisme nampak pudar, yang ada hanyalah hujatan tentang bobroknya sistem pemerintahan Indonesia serta semakin remuknya sistem birokrasi di negeri ini.

Hal yang harus kita sadari adalah banyaknya anak bangsa yang semakin meninggalkan jati diri dan identitas bangsa ini. Yaitu kebanyakan dari masyarakat yang sangat bangga menggunakan produk-produk dari negara lain, bekerja di perusahaan asing atau bahkan ingin menjadi warga dari negara asing. Keadaan ini merupakan kondisi kritis bangsa kita.

Memang suatu hal yang tidak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi yang begitu pesat memaksa manusia secara sadar maupun tidak menjadi makhluk sosial yang individualis. Adanya perasaan mampu untuk mengatasi segala persoalan sendiri membuat individu seakan sudah tidak memerlukan hubungan dengan yang lain. Dan perasaan individualis inilah yang semakin lama mampu mengikis rasa kebersamaan sebagai bagian dari masyarakat suatu bangsa.

Namun, sebagai anak bangsa yang akan memperkokoh berdiri tegaknya bangsa ini, kita tidaklah pantas berbuat demikian. Karena kitalah yang seharusnya sama-sama berpikir bagaimana kita mampu bangkit bersama untuk memberikan dukungan terhadap kebaikan bangsa. Bertindak untuk penuntasan kasus-kasus korupsi yang menggerogoti kemakmuran negeri ini, dan bagaimana integritas bangsa ini bisa dijaga melalui garis komando pucuk pimpinan negeri yang mampu mengajak rakyatnya untuk sama-sama menjaganya, bukan malah ikut bersekongkol dengan kekuatan asing untuk merampok bangsanya sendiri dan menjadikan rakyat sebagai tumbalnya.

Hal paling penting yang tidak bisa dilupakan yaitu bahwasanya nasionalisme itu sendiri muncul dari berbagai bentuk dan derajat. Nasionalisme tidak dapat disamakan bersama dengan suatu kesatuan rubik. Selain itu, tidak semua nasionalisme memiliki kesamaan dalam berupaya untuk homogenitas budaya. 
Sesungguhnya apa yang dikehendaki dari para nasionalis itu sendiri ialah satu budaya publik. Dan tidak juga semua nasionalis mengabaikan dasar hak asasi manusia dan keberagaman individual. Inti dari nasionalisme itu ialah tuntutan loyalitas utama terhadap bangsa.

Sikap nasionalisme telah menjadi inti kebudayaan bangsa yang tidak mudah hilang begitu saja. Disini sangat terlihat bahwa sikap nasionalisme memainkan perannya sebagai landasan idil dalam menghadapi arus globalisasi serta sebagai suatu potensi besar bagi negara untuk tetap mempertahankan persatuan bangsanya. Hingga pada akhirnya bukanlah hal mustahil untuk mencapai Indonesia yang lebih bersinar. Dan kita harusnya menyadari bahwa nasionalisme yang harus diterapkan adalah nasionalisme yang sesungguhnya, bukan nasionalisme yang semu semata. 

Oleh: Sri Gusmurdiah 
Terbit di Surat Kabar Kampus Ganto UNP, edisi Januari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....