Sang Pejuang
Without me, not perfect :)
"Beri aku 1000 orang tua, niscaya
akan ku cabut Semeru dari akarnya.
Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku
guncang dunia.”- Soekarno
Dari
sini aku berasal.
Dari
pengalaman yang akhirnya membesarkan aku hingga sekarang. Seperti apa aku
sekarang? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menilainya.
Yang
aku tau, salah satu seniorku menyebutnya, “Dia (aku-red) telah dibesarkan disini
semenjak aku mulai merangkak.”
Berada
pada sebuah kelompok yang disebut organisasi.
Disini,
aku belajar tentang arti berjuang, memberi, menerima, mengenal, dikenal, dan
mengabdi.
Aku
belajar untuk memperjuangkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada, sesuatu yang belum
terjadi menjadi terlaksana. Aku memberi untuk mewujudkan tujuan bersama. Menerima
untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman baru. Mengenal sosok baru yang sama
sekali asing sebelumnya. Dikenal dengan keberadaan ku. Dan mengabdi untuk tanah,
dimana aku dilahirkan.
Mengabdi...
Kata-kata
ini mungkin sedikit berat kawan. Khususnya bagi kau yang ada di pikiranku. Saat
tulisan ini mengalir begitu saja dari otakku, hingga ia dilahirkan.
Kau,
yang beberapa kali pernah duduk di lingkaran tanah berdebu, beratap langit,
namun kau nikmati dengan tawa renyah.
Kau,
yang pernah berada di tempat asing bersamaku. Dan kau yang dua hari lalu
melakukan perjalan panjang bersama- kita.
Kawan,
kau tau. Jika mengutip kalimat bijak pahlawan di atas (yang entah masih aku anggap
pahlawan atau tidak), kita mestinya memiliki tujuan yang sama untuk berada pada
kelompok ini. Untuk satu kata yang kita sebut mengabdi.
Lalu,
ada apa dengan kata ini?
Ada
apa dengan mengabdi?
Bagiku,
ini tentang keberfungsian kita kawan.
Sebagai
manusia dengan status sosial tertinggi di masyarakat atau bahkan di seluruh
dunia. Kita adalah puncaknya. Kita yang mengenggam dan kitalah pemiliknya.
Pemilik dunia.
Mungkin
terlalu muluk jika aku menyebut kita sekarang adalah the best of the best. Namun, pada kenyataanya itulah kita. Sang
pejuang yang hanya akan bisa ada di saat kita memiliki status dan fungsi seperti
sekarang.
Kau
tau karena apa? Mahasiswa.
Ya,
karena kita mahasiswa.
Couz we are leaders
Bukan
apa-apa, jika kau menganggap kita ada disini adalah untuk belajar
berorganisasi, mungkin aku mengangapnya lebih dari itu. Sangat jauh.
Kita
berjuang tidak hanya dalam proses belajar, tapi kita sedang mengabdi dan
penyiapkan diri untuk menjadi pemimpin dan penggenggam dunia.
Ok,
kalau kau pikir penggenggam dunia terlalu jauh. Kau boleh sebut sebagai
pengontrol dunia, atau setidaknya pengontrol negerimu sendiri.
Kawan,
untuk kau yang pernah beberapa kali satu atap dan ruang yang sama denganku.
Rentetan
kalimat ini tidak bermaksud untuk menggurui atau seolah berkelakar lebih dari
apa yang kau punya. Sama sekali tidak.
Anggap
saja, ini hanya sebagian dari ungkapan terimakasihku dan memoar yang aku harap
tidak akan lumpuh dan hilang dari pergerakan otak dan telanan waktu. Aku
tumpahkan disini sebelum semuanya benar-benar pergi. Sebab, bagaimana pun aku
mempercayai, waktu mampu menelan apa pun yang ada di muka bumi ini.
Tak
terkecuali ingatan.
Kawan,
jika aku persempit, mungkin kita atau setidaknya aku, akan sepakat. Ujung
pangkal dari apa yang aku sampaikan dalam kalimat yang entah berarti atau tidak
di atas adalah tentang kita dan negeri ini. Semoga tidak hanya ekspektasi ku
saja. Kata “mengabdi” benar-benar ada dalam setiap gerakan dan langkah kita.
Ok,
untuk beberapa hal yang telah usai dengan peluh dan semangangatmu, aku ucapkan
selamat. Dari awal aku memang telah berkeyakinan. Kehebatan dan kemampuan
kalian-kita lebih dari yang aku bayangkan.
Congratulation for us :)
Untuk
kita dan negeri ini yang lebih baik ke depannya, aku harap tidak sekadar mimpi
muluk dalam omong kosong dan ekspektasi dalam teori tak berarti.
Selamat
berjuang kawan...!!!
Selamat
berjuang mahasiswa...!!!



suatu saat aku akan kembali ke sini, aku ingin mengabdi disini, karena ini tempat aku lahir.Pesisir Selatan.
BalasHapusSemoga...
BalasHapusBerikan yang terbaik untuk tanah kita tercinta :)