“Lelaki Setelah Ayah” Cerpen Cinta Beda Agama

 

Foto: Lumina in Pinterest


Hallo, pembacaku semuanya!

Di tulisan kali ini aku akan memberikan contoh cerpen cinta beda agama. Cinta beda agama mungkin bukan sesuatu yang baru lagi di dunia. Ya, begitulah cinta. Tak salah kata para punjangga “cinta itu buta”, karena pada kenyataannya cinta memang tidak memandang suku, bangsa, bahkan agama. Konon, katanya cinta juga tak memandang harta dan rupa. Kalau sudah cinta, ya cinta saja.  

Benarkah begitu adanya? Mari kita temukan jawabannya di cerpen cinta beda agama satu ini.

Lelaki Setelah Ayah

Aku tidak akan mencintai lelaki mana pun setelah Ayah. Ayah yang tak pernah kutahu seperti apa wajahnya. Ayah yang ikut berperan menghadirkan aku ke dunia, lalu meninggalkan aku dan Ibu seperti tanpa rasa dosa.

Apa aku membenci Ayah?

Tidak.

Aku sama sekali tidak membenci Ayah. Ayah adalah laki-laki yang teramat dicintai Ibu. Aku juga mencintai Ayah sebagaimana Ibu mencintainya. Namun, aku tak dapat lagi mencintai lelaki mana pun setelahnya.

Lelaki adalah makhluk berbahaya. Penipu ulung, bermulut manis, tetapi memiliki ribuan racun yang kapan pun bisa disengatkan ke jantungmu. Itu yang pernah Ibu katakan kepadaku tentang lelaki, sepuluh tahun lalu.

Saat aku masih tiga belas tahun.

Semenjak mendengar kata-kata Ibu, aku tak lagi bisa mencintai lelaki. Benar kata Ibu. Laki-laki itu jahat. Seperti lelaki yang teramat kami cintai.

Sebagaimana anak perempuan kebanyakan, semasa sekolah dan kuliah, aku tetap berteman dengan lelaki. Namun sekadar berteman, tak lebih. Benar-benar tak ada tempat sesenti pun di hatiku untuk makhluk seperti mereka.

Kata-kata Ibu aku pegang sepanjang usiaku.

Hingga hari itu datang.

"Bapak Ilham Satrio!"

Tak lama setelah mendengar suara suster Nina, seorang pasien masuk.

Aku sebagai suster yang mendampingi dokter Adnan di poli bagian penyakit dalam, membaca riwayat pasien yang terdapat di map.

Saat dokter Adnan berbicara hangat dengan lelaki itu, aku hanya berdiri diam memerhatikan. Lelaki bertubuh jangkung tetapi tidak begitu kurus, memiliki wajah oriental dengan rahang yang tegas, alis matanya tidak begitu tebal, dengan sorot mata yang tajam. Tak ada tanda-tanda bahwa ia sedang menderita suatu penyakit yang serius.

Sesekali mereka tertawa. Kadang dokter Adnan memberi kata penyemangat kepadanya. Lalu yang terakhir kulihat sorot pasrah dari mata lelaki bernama Ilham tersebut.

"Kasihan ya, Rya. Masih muda penyakitnya sudah separah itu," ucap dokter Adnan saat lelaki itu sudah keluar dari ruangan.

"Sindrom nefrotik bukan penyakit yang ringan," sambung dokter Adnan. Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan dokter yang sangat aku segani itu, tak tahu harus menjawab apa.

***

Shift-ku sudah selesai, bersiap-siap untuk segera pulang. Memberitahu ke suster Nina bahwa aku akan meninggalkan ruangan dokter Adnan. Ketika aku keluar dari ruangan, pasien bernama Ilham itu kembali mendatangi dokter Adnan. Ini untuk kesekian kali, dan hari ini lebih awal dari biasanya.

"Mbak Nina, Lirya duluan. Permisi." Aku melangkah di depan meja suster Nina sekaligus berpapasan dengan pasien bernama Ilham.

Aku menatapnya yang juga menatapku. Kami sama-sama melempar senyum sekadar basa-basi.

Rinai mulai jatuh saat kakiku melangkah dari lorong menuju gerbang rumah sakit. Pencarian driver yang aku lakukan di aplikasi belum juga membuahkan hasil. Apa karena nanti siang akan ada demo, sehingga tak satu pun driver yang menyediakan jasa pagi ini.

Tak ada pilihan. Aku berlari-lari kecil menuju halte tak jauh dari gerbang. Berharap segera ada angkutan umum yang lewat. Sebelum hujan kian lebat.

Sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Kemudian kacanya diturunkan. Sang sopir mengklakson sekali.

"Pak Ilham?"

Aku menatapnya sedikit heran. Ada apa dia berhenti di sini. Apa ada perlu denganku?

"Naik, Sus! Bareng saya saja!" dia bersuara.

"Apa? Eng ...nggak usah, Pak! Terimakasih."

"Ayok! Nanti siang ada demo, Sus. Beberapa ruas jalan sudah ditutup. Susah angkutan umum. Ayok, naik aja!"

Aku membuka pintu penumpang di sebelahnya dan duduk dengan canggung.

"Terima kasih, Pak Ilham."

Mobil kembali melaju.

"Jangan panggil bapak, dong. Memangnya saya terlihat setua bapak-bapak ya, Sus!?"

Kedua sudut bibir lelaki di sampingku tertarik ke atas. Demi Tuhan, manis.

Apa?

Aku mengumpati pikiranku yang mulai berani sembarangan.

"Ya, biar sopan gitu maksudnya, Pak."

"Panggil Ilham saja, Sus! Saya masih muda gini. Haha."

Lelaki di sampingku tertawa renyah.

Tuhan ... ampun!

"Hmm ... baik, Pak. Eh, Ilham."

Kami tertawa serentak.

Setelah itu pembicaraan kami mengalir begitu saja. Sesekali tawa aku dan Ilham menggema di dalam mobil. Ilham adalah lelaki yang sopan, terbuka, dan memiliki selera humor yang bagus. Tidak sekaku yang aku pikir di awal, dan sama sekali tak seperti seorang yang tengah mengidap penyakit.

Ilham menurunkanku di depan rumah. Aku masih sempat melihat senyum manis dan teduh miliknya sebelum berbalik dan melangkah ke teras.

Lalu, tanpa kusadari ada yang berbeda sejak hari itu. Sesuatu yang tak mampu kukendalikan di dada. Gelenyar yang kadang membuat wajahku bersemu merah, atau pilu menusuk dada ketika aku mengingatnya.

Ilham lagi dan lagi mengunjungi dokter Adnan. Kadang dalam keadaan baik-baik saja, sekadar untuk mengonsultasikan kesehatannya. Kadang dalam keadaan yang ... entahlah. Jantungku terasa diremas setiap kali memasukkan jarum infus ke pembuluh darahnya.

Enam bulan setelah hari di mana aku mengenal Ilham sebagai sosok yang berbeda, memasrahkan perasaanku terjun bebas padanya, dari suster Nina aku mengetahui bahwa Ilham adalah seorang muslim yang taat. Seperti ocehan suster Nina malam ini.

"Suaranya sangat merdu dan indah, Rya. Jantungku meleleh saat dia mengimami salat magrib di Musala tadi. Ya Allah, seandainya anakku belum dua ...." Suster Nina yang sudah bersuami dan memiliki dua anak itu senyum-senyum sendiri memuji Ilham di depanku.

"Tapi kasihan ya, Rya. Tampan, soleh, masih muda, tapi sakit gitu," tambahnya dengan wajah yang dibuat sedih dan memelas.

Lagi, aku hanya mengangguk canggung menanggapi suster Nina. Sudah sejak lama detak jantungku tak lagi bekerja sesuai fungsinya ketika nama lelaki itu disebut.

Kata-kata Ibu sepuluh tahun silam kadang masih terngiang di telingaku. Tentang lelaki dan bagaimana perilaku makhluk sebangsa mereka. Namun, rasanya aku mulai tak terlalu berpikiran untuk membenarkan perkataan Ibu di masa lalu. Barangkali mereka tak seluruhnya seperti itu. Buktinya dokter Adnan. Aku tahu, beliau begitu memuja istri dan mencintai anak-anaknya. Mungkin juga, Ilham.

Awalnya aku tak percaya prinsip yang sempat aku pegang puluhan tahun itu akan luluh. Namun, nyatanya sekarang hatiku tak lagi bisa membantah. Bohong jika aku bilang tak ada seseorang yang terkadang mengusik tidur nyenyakku. Ada yang kurang saat pria itu tak datang mengunjungi dokter Adnan.

Hari-hariku kian kacau setelahnya. Tak punya pengetahuan sedikit pun tentang apa yang aku rasa, terkadang membuat jiwaku resah. Aku takut salah langkah. Aku tak ingin merusak prinsipku dan tak mau menanggung rasa bersalah pada Ibu. Dan malangnya, semakin aku menahan rasa itu, semakin membuncah ia di dada. Lelaki itu--Ilham--tanpa kusadari, hatiku benar-benar sudah jatuh utuh padanya.

***

Aku membereskan ruangan dokter Adnan dan merapikan berkas-berkas riwayat pasien yang teronggok di sudut meja. Meregangkan otot-otot tangan yang kaku. Bayangan makan siang sudah melintas di pikiran. Kantin rumah sakit adalah tempat yang paling kurindukan untuk saat ini.

Sesaat sebelum aku membuka pintu, seseorang mengetuknya dari luar.

Dari sela kaca di tengah daun pintu, aku melihat lelaki itu berdiri di sana, Ilham.

Jantungku, lagi-lagi aku tak tahu apa yang terjadi dengan jantungku sekarang. Aku yakin seratus persen, tubuh masih dalam keadaan sehat. Namun, dengan langkah yang sedikit kebas dan dada yang berdegup aneh, aku meraih gagang pintu.

Ilham menatapku dan tersenyum. Otakku mengeluarkan berbagai spekulasi saat membalas senyumnya.

Untuk apa dia ke sini?

Sekarang sedang jam istirahat. Lagi pula, dokter Adnan juga sudah meninggalkan rumah sakit beberapa menit lalu.

"Hello, suster Lirya!" Dia menyapa dengan senyum khasnya.

"Saya tadi sudah berjumpa dokter Adnan di lobi. Kata beliau, suster di sini. Jadi saya langsung datang ke sini," sambungnya masih dengan senyum yang sama.

Dadaku semakin tak terkendali. Jadi dia sengaja mencari aku ke sini?

Beberapa detik dia terdiam, seperti tengah menyiapkan kata-kata untuk diucapkan, lalu ....

"Ini, saya mau mengantar undangan pernikahanku. Sempatkan untuk datang ya, Sus!" ucapnya mengulurkan secarik kertas berlilit pita berwarna putih padaku.

Bibirku seketika beku. Lidahku kelu. Tak tahu apa yang harus aku katakan. Sedikit menahan gemetar, aku meraih undangan itu dari tangan Ilham.

"Ok. Te-terima kasih undangannya," suaraku sedikit tercekat.

"Baik, kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa datang ya, Sus!" ujar Ilham sebelum berlalu.

Sebelum punggung lelaki itu benar-benar lenyap dari mataku, aku kembali menutup pintu. Mendekap dada yang terasa begitu sesak.

Tuhan, ada apa ini?

Baru beberapa menit yang lalu jantungku meronta keras saat dia datang. Seakan ada rasa yang menemui alamatnya. Lalu kenapa sekarang hatiku terasa begitu nyeri saat dia pergi?

Tak ada lagi bayangan makan siang dan kantin di otakku. Aku harus segera pergi. Yang aku butuhkan hanya satu sekarang. Aku menggenggam erat liontin kalung yang melingkar di leher.

Tuhan, aku butuh engkau.

Pada akhirnya, aku benar-benar takkan mencintai lelaki mana pun. Setelah Ayah dan lelaki itu.

***

Sumber: Buku Kita Pernah karangan Shinju Syam

Nah, itu salah satu contoh cerpen cinta beda agama. Jadi, gimana menurut teman-teman semua?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....