Kamu...
Ini
adalah hari pertama aku kembali ke Kota Semarang. Setelah beberapa hari lalu, pulang ke
rumah keluarga yang berada di kampung. Pulang, ya, sekadar menuntaskan rindu
bersama keluarga di sana.
Hari ini, pertama kali memasuki gerbang yang
memisahkan kampung dan Kota Semarang, aku langsung menatap wajahmu. Kau menunggu, untuk
menjemputku.
“Kita
pergi minum dulu?” tanyamu saat aku telah berpindah dari mobil yang aku
tumpangi ke atas motor yang sudah kau nyalakan.
“Terserah,”
jawabku. Aku menangkap kau menganggap jawabanku ia.
Kau
memacu motormu dengan kecepatan sedang. Dibonceng olehmu adalah bukan hal asing
lagi bagiku. Tapi, kali ini terasa begitu berbeda. Apakah benar atau hanya
perasaanku saja. Tubuhmu langsung menegang saat tanganku menyentuh pinggangmu
untuk berpegangan. Aku hanya berpegangan agar tak jatuh, bukan tengah
memelukmu dari belakang. Tapi dari belakang, punggungmu tampak luar biasa kaku.
Ah, sudahlah. Mungkin perasaanku saja.
Kau
memarkirkan motormu di depan sebuah cafe
yang tidak terlalu besar namun cukup unik yang bertengger di sudut kota.
Dekorasi berupa pepohonan dan
kayu-kayu tua menghiasi setiap sudut cafe.
“Duduk
di sini?” tanyamu dengan tatapan yang sepertinya tak butuh jawaban.
Ah, kau.
Selalu begitu. Pertanyaanmu ibarat perintah bagiku.
“OK”.
Aku menurut.
Usai
menarikkan kursi dan menyilahkan aku duduk, kau mengitari meja dan lantas duduk
tepat di depanku.
“Mau
minum apa?” Tanyamu sambil menatap menu-menu pada buku menu.
“Biasa,”
jawabku tanpa tertarik untuk melihat menu yang tersedia.
“Yang
lain?” kau beralih menatapku.
Aku
mengatupkan bibir dan menggeleng.
“Jus
sirsak dua, mie goreng seafood satu,
mas,” ujarmu, sambil menyerahkan buku menu kepada pelayan cafe. Pria yang usianya paling jauh berjarak dua tahun dari kita
itu tersenyum dan berlalu.
“Sudah
terbayarkan rindunya?” tanyamu, membuka pembicaraan. Sebuah kalimat yang entah
bisa ku anggap sebagai pertanyaan atau tidak.
“Lumayan,”
jawabku datar.
“Kalau
sudah, itu kok wajahnya masih ditengkuk gitu,” katamu sambil menatap lekat ke
mataku.
“Gak
ah, biasa aja,” kali ini aku paksakan untuk tersenyum.
“Bohong.
Senyummu tak sampai ke matamu Ran, dan itu terlalu dibuat-buat,” kata-katamu
kali ini terdengar begitu tajam dan cukup memojokkanku.
“Apaan
sih, Bar. Oh, ya. Bagaimana dengan gebetan lo yang kemaren, kalian udah jadian
kan? Kok gak cerita-cerita ke gue sih. Ah, lo gak asik,” aku berusaha untuk
tetap tersenyum dan kali ini seolah-olah menuntut sesuatu padamu.
“Kamu
itu yang apaan Ran. Kamu sengaja mengalihkan pembicaraan? Aku tanya tentang
kamu, bukan orang lain?” kali ini aku benar-benar terpojokkan.
“Maksud
lo?” Seperti sebelum-sebelumnya, aku mulai gak tau harus jawab apa.
“Stop
ngomong lo-gue, samu aku Ra...”
“Ok, selama di rumah, gue mikirin lo terus Bar,”
aku langsung memotong pembicaraanmu sambil tertawa. Bodohnya, kalimat konyol
yang gak pantas untuk dilontarkan melompat dari mulutku.
“Aku
gak becanda Ran,” wajahmu mulai serius.
“Ok.
Aku serius. Kamu mau ngomong apa?”
“Aku
tau kamu gak baik-baik saja. Aku tau semuanya terlalu berat untu kamu. Tapi..”
kau terdiam dan menghentikan kalimatmu.
“Tapi,
apa Bar?” aku pun mulai tak sabar ingin mendengar kata-katamu.
“Hkmm...”
kau mendehem. Lalu membuang napas panjang.
“Anggap
saja tidak ada yang menarik dari hidup ini, sehingga dengan santainya kau hidup
tanpa tujuan,” ucapmu dengan susah payah.
“Aku
makin gak ngerti Bar,” ucapku. Kali ini aku benar-benar serius.
“Aku
belum selesai Ran,” jawabmu.
“Ok,
sorry. Lalu?” ucapku masih dengang bingung.
“Bisa
gak, kamu anggap saja tidak ada yang menarik dari hidup ini. Sehingga dengan
santainya kamu hidup tanpa tujuan. Lalu, kamu berhenti, saat temukan aku di
depan matamu. Dan semua akan baik-baik saja, serta berakhir indah,” kau
mengakhiri kalimatmu dengan sukses, walau keringat terlihat jelas di jidatmu.
Dan
tidak tau apa yang terjadi denganku. Aku baru tersadar, saat uap es dari jus
sirsak yang tadi ku pesan mengalir ke tanganku yang dari tadi kaku di atas meja.
Aku
menatap matamu yang dari tadi menatap intens ke manik mataku.
“Aku....”
aku gak tau apa yang harus ku ucapkan....

Bagus kak... aku tadi menebak arahnya.. tapi ragu2, tapi akhirnya memang itu.. setidaknya merasa penasarn membaca sampai akhir.. tapi ada beberapa kata yang mungkin dipaksakan kak.. kayak manik mataku.. berjarak dua tahun diatas kita tersenyum ramah.. Tapi aku rasa itu mengambarkan perasaan si penulis atau ran... sorry gaje dan komen tak jelas... fithing kak ��
BalasHapusAhakk.. kakak bru baca ka.
BalasHapusTerimakasih koment nya kak,... :)
THANKS ALOT