Lorong Waktu #2
Jakarta, 5 Mei 2020
Cahaya kuning keemasan
masih membayang di langit Jakarta. Masih terlalu pagi, namun Bandara
Soekarta-Harta sudah sesak oleh hiruk pikuk orang-orang yang akan pergi dan
kembali dari penerbangan. Mata tajam Bara menatap dingin ke sekeliling bandara.
Sedingin pagi itu. Bara lebih merapatkan Jaket ke tubuhnya. Ini pertama kalinya
ia kembali menginjakkan kaki di kota ini, sejak dua tahun tinggal di Tokyo.
Akbara kembali. Untuk dia. Gadisnya. Sahabat hatinya. ***
Taxi yang ditumpangi
Bara berhenti tepat di depan lobi hotel dimana acara peluncuran novel yang
berjudul “Still” karya gadisnya itu akan dilangsungkan. Sepasang banner lansung menyambutnya saat ia
sampai di pintu ballroom di dalam hotel.
Jam menujukkan angka sepuluh pagi. Ballrom
hampir penuh, acara pun sepertinya sudah dimulai.
Di atas panggung yang
berada dalam ballroom, gadis itu
duduk dengan anggun. Bara mentapnya lama. Ini kali kedua dia bertemu lagi
dengan gadisnya. Setelah terakhirkali mereka berjumpa di sebuah restoran, di
Tokyo. Sekarang, gadis itu pula yang telah membawanya kembali ke Jakarta. Berada
di ruangan ini.
Senyum tak
henti-hentinya merekah dari bibir gadisnya. Tak sedikit pun nampak wajah
canggung di sana. Namun dari senyum itu, tersemat getir yang langsung bisa
ditangkap oleh Bara. Senyum yang penuh dengan kekhawatiran. Gadisnya cemas.
Belum pernah selama ia menjadi sahabatnya, gadis tersebut menampakkan wajah yang
penuh beban seperti itu.
Kamu kenapa Kirana? Dada Bara tiba-tiba
terasa nyeri menatap gadisnya.
Bara sengaja duduk di
bagian sudut ruangan dengan sedikit menyamping dari panggung. Ia tak ingin
bertatapan langsung dengan Kirana. Hingga dua jam berlalu. Jarum jam sudah
menunjukkan pukul dua belas siang. Bara masih bertahan dengan posisi duduknya.
Namun, akhirnya ia
tersadar kenapa harus bersikap seperti itu. Apakah ia tengah menghindar? Kalau
ia, untuk apa pula ia menghindar dari Kirana. Bukankah tujuannya kembali ke Indonesia,
datang ke ruang ini adalah untuk menjumpai gadisnya. Lantas mengapa pula ia
harus menghindar. Bara tersenyum sendiri menyadari kebodohannya. Dia berdiri
dan saat menoleh ke samping, ia langsung menatap Kirana yang telah berdiri
beberapa langkah di depannya. Kirana tersenyum, menatap Bara dengan mata
mengabur. Sebutir kristal luruh dari sudut matanya. ***
Tak banyak basa basi
yang terlontar dari bibir mereka. Hening pun terasa sangat mendominasi suasana di
mobil.
“Lima hari lagi lamaranya
akan dilangsungkan. Gue udah pernah berjumpa dengannya. Dua kali. Terakhir tadi
malam. Dia pria yang baik dan memiliki selera humor yang unik.” Kirana mencoba
memecah keheningan di atas mobil dengan kalimat yang langsung mengiris uluh
hati bara. Entah kenapa, rasa nyeri kembali terasa di sana.
“Oh, ya? Kamu bahagia,
akan segera bertunangan dengan lelaki yang baik dan memiliki selera humor yang
tak biasa?” Bara bertanya dengan tatapan tetap fokus ke arah jalan di depannya.
Kirana melirik Bara
sekilas dengan sudut matanya. “Gue gak tahu,” jawab Kirana nyaris seperti bisikan.
“Kok gak tahu?” Bara
menatap Kirana dengan kening berkerut.
“Gue gak yakin. Apakah
bahagia atau justru sebaliknya”.
Lagi. Hening kembali mendominasi di
dalam mobil.
***
Bara tidak tahu apa
yang harus ia lakukan. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Sementara ia tak
sekejap pun mampu memeremkan matanya sejak tadi malam. Tepat pukul sebelas
siang nanti, acara pertunanganan Kirana akan dilangsungkan. Sementara ia, tak
ada rencana apapun yang terlintas di benaknya. Kepalanya benar-benar tak bisa
diajak berpikir saat suasana hatinya keruh seperti sekarang.
“Aku belum siap
kehilangan kamu Kiranaaa....” Bara mengacak-acak rambutnya dan mengusap
wajahnya dengan kasar. Kalut benar-benar mendominasi hatinya.
Akhirnya ia coba untuk
ke kamar mandi. Membasuh wajah dan kepalanya agar sedikit lebih tenang. Lima
menit berlalu, ia keluar dengan kepala dan wajah yang basah namun sedikit lebih
ringan.
Lantas Bara mengeluarkan
baju ganti dari dalam tas. Ia memutuskan untuk menjalankan rencana yang baru
saja terlintas di pikirannya.
Lima puluh menit
sebelum acara lamaran berlangsung, dengan segenap keberaniannya Bara datang ke
rumah Kirana. Sesampainya di sana, ia langsung mencari Kirana dan menuju kamar
dimana Kirana berada.
“Bara? Ngapain lo kesini?”
Kirana kaget mendapati Bara yang tiba-tiba sudah berada di kamarnya.
“Aku mau membawa kamu
Ran,” suara Bara sedikit tercekat.
“Membawa gue? Kemana?
Lo udah gila ya?” Kirana melotot mendengar ide gila Bara. Seenaknya saja ingin
membawa perempuan yang akan segera bertunangan dengan lelaki lain.
“Kemana saja. Nanti
kamu akan tahu Ran,” Bara menarik tangan Kirana untuk segera pergi. Tanpa
mereka sadari, di luar sana sepasang mata menatap dengan terluka.
“Gak bisa, Bar,” Kirana
menolak. Melepas pegangan Bara dengan sedikit kasar.
“Gue gak bisa. Bagaimana dengan dia?”
lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Tapi aku mencintai
kamu, Ran.”
“Lo benar-benar lelaki
brengsek, Bar.”
“Aku akui. Tapi aku
yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama.”
“Oh, ya? Tapi gue tak
setega itu, Bar”.
“Dia mengakhiri
hubungan kami dan berlalu dengan pria lain”.
“Dan lo menyerah begitu saja? lo terlalu
pengecut untuk seorang lelaki, Bar”.
“Lalu aku harus bagaimana lagi Ran?” Bara
mulai prustasi menghadapi penolakkan Kirana.
“Yah, yah... lo harus
pertahankan dia, Bar. Lo masih mencintainya kan?” pertahanan Kirana akhirnya
jebol juga. Beberapa butir kristal luruh mengaliri pipinya.
“Lo sahabat gue, dan....
dan... sahabat gue gak mungkin setolol dan seegois ini”
“Aku mencintaimu, Ran.”
“Kamu pikir aku tidak”.
Suara Kirana meninggi. Ia tak mampu lagi menahan emosi dan air matanya.
Semantara Bara terdiam
mendengar pernyataan Kirana. Terdengas ketus, namun mampu mendenyutkan hati dan
seluruh nadinya nya dengan luar biasa.
Sepasang mata itu tak
sanggup lagi menyaksikan drama yang berlangsung di depannya. Ia berlalu dengan
langkah lemah dan hati yang berdarah.
“Ran, perasaan ini
tidak ingin ku jaga. Berkali-kali ku coba untuk membuangnya, tapi... tapi
tetap, ia tak bisa mati. Dan... dan cinta ini selalu ingin ku akhiri, namun
malah menjadi abadi. Aku tak tahu, hatiku yang sudah kau rampas tak tahu harus
melakukan apa Ran....”. Bara bicara terbata. Hatinya semakin hancur menyaksikan
gadisnya tersedu di depannya. Sementara ia tak bisa lagi melakukan apa-apa.
“Lo bisa Bar. Terkadang
memang ada kisah yang terpikir takkan bisa mati, tapi ternyata memang harus
diakhiri.” Kirana mengelap air matanya dan kembali mengatur emosi dan napasnya
yang sempat memburu.
“Elo tetap sahabat gue,
selamanya. Sampai kapan pun. Sekarang ayo kita keluar! Lo gak mau kan, sahabat
lo yang cantik ini gagal tunangan karena tingkah konyol sahabat laki-lakinya,” Kirana tersenyum dan menarik tangan Bara
untuk segera menuju ruangan acara.
***
Lima bulan kemudian...
“Mbak Kirana? Mbak penulis novel You are
My BBF itu kan?” dua gadis itu bertanya sambil tersenyum senang menatap Kirana.
“Eh, iya.” Kirana kaget dan sedikit canggung
saat disapa seperti itu.
”Boleh foto bareng gak, mbak? Kami orang
Indonesia, kuliah disini,” ujar salah satu dari mereka dengan antusias.
“Ooh, iya boleh... boleh.” Balas kirana
disertai senyum yang mengembang. Walau agak canggung, Kirana merasa memiliki
kedekatan tersendiri dengan kedua gadis tersebut saat mereka menyebutkan
identitasnya.
“Maaf, mas boleh tolong difotoin nggak?”
ujar gadis itu sedikit malu-malu kepada Bara.
“Iya, boleh,” Bara meraih HP yang
diulurkan sang gadis. Mereka berfoto dengan posisi Kirana ditengah diapit oleh
mereka berdua.
“Makasih mbak, mas. Hmm.. mas dan mbak
mau difotoin juga nggak? Mumpung pemandangan di belakangnya lagi bagus-bagusnya,”
tawar gadis itu.
“Iya, boleh bangat. Pakai kamera ini
aja!” Bara menyerahkan kamera dan merangkul pinggang Kirana yang langsung
bergerak kaget karena Bara merangkulnya dengan begitu posesif.
“Apaan sih?” ujar Kirana dengan kedua
pipi yang memerah, karena gadis yang memfoto mereka senyum-senyum melihat ulah
Bara kepadanya.
“Gak apa-apa dong Ran. Sekarang kamu kan
my wife, bukan MY BBF lagi,” ujar Bara
yang langsung dibalas cubitan oleh Kirana.
Bara tertawa dan membawa kirana ke dalam
pelukannya.
***

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus