Bersamanya


Pernahkah kau berpikir tentang batas-batas waktu yang ditakdirkan Tuhan?

Bagaimana pada awalnya kau berjumpa, mengenal, menerima, dan menjatuhkan hati pada sesuatu. Hingga akhirnya sang waktu memberi batas untuk mengakhiri semua.

Bagaimana kau menikmati setiap keadaanmu bersamanya, hingga kau tumbuh dan mensyukuri semua proses yang tercipta. 
Lalu perpisahan menghampiri tanpa kau duga.

Aku pernah, terbangun dan lantas tak peduli, apakah orang-orang di sekelilingku masih ada atau justru telah berlalu. 
Aku pernah pergi, dan selalu berpikir untuk kembali. 
Dan aku pernah, menjadi seseorang yang akhirnya tidak bisa benar-benar pergi, darinya.
Karena ia adalah tempatku untuk kembali. Ruangku untuk berbagi sepi. 
Di masing-masing sudutnya, aku pernah memejamkan mata. Menderai tawa. Menumpahkan air mata. Dan bahkan memuntahkan amarah.  

Aku tak ingat, sudah berapa banyak senja yang lindap bersama tik-tik suara keyboard sebelum keheningan nan panjang benar-benar menghampiri. 
Malam-malam sunyi dan pagi yang sepi. 
Aku menikmati berbagai suasana, lengkap dengan orang-orang dengan berbagai pikiran uniknya di sana.

Lalu, ketika cerita itu datang, aku hanya bisa menyenyumi apa yang akan terjadi. 
Ketika dia bukan lagi dia yang dulu. Akan menjadi sesuatu yang baru. Ketika dia tak lagi sesuatu yang menjadikan ku tak pernah benar-benar pergi. 
Sungguh, aku hanya bisa menyenyumi apa yang akan terjadi.

Namun, kepada Sang pengatur waktu, aku sungguh bersyukur. Setidaknya aku pernah mengenal dan tumbuh bersamanya. Lima Lima tahun bersamanya terasa begitu singkat, tapi menjadi waktu yang sangat berharga dalam hidupku.

Terimakasih pernah menjadi bagian yang sungguh berharga, G.

Padang, (22/8) saat aku tak lagi bisa memeluk mimpi bersamanya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....