Purnama Bulan Juni


"Apa yang tengah kau perbuat dek? dari tadi gerasak-gerusuk gak jelas. Tidur! Ini sudah malam”. Mas Bayu akhirnya terbangun, karena ulahku yang mondar mandir tak jelas dari tempat tidur ke kamar mandi, dari kamar mandi ke sofa, lalu kembali lagi ke tempat tidur.
“Pengennya sih iya tidur, mas. Tapi kok udaranya panas banget ya? Itu kipas mending dijual aja kali ya. Gak ada gunanya.” Ujarku sambil mengipas-ngipaskan tangan ke wajah.
Mas Bayu bangkit dari tidurnya, lantas duduk di pinggir tempat tidur.
“Dek, sekarang Bulan Juni kan?” suamiku menatapku aneh.
“Iya, mas. Kenapa memangnya?” ujarku balik bertanya.
“Seharusnya turun hujan kan?” ia tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya.
“Gimana mau hujan, itu purnama di luar benderang banget. Panas malahan.” Aku masih mengipas-ngipaskan kedua tangan ke wajah.
“Oh, ya. Mana?” mas Bayu turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Mengintip purnama yang tengah menertawakanku yang sedang kepanasan. Lalu, ia kembali duduk ke pinggir tempat tidur bersama sebuah gitar yang baru diambilnya di pojok kamar. Aku hanya memerhatikan apa yang tengah dilakukan mas Bayu.
“Dek, biar gerahnya hilang dan udaranya gak panas lagi, duduk sini mas bacakan puisi!” mas Bayu menyuruhku duduk di sebalahnya. Tak biasanya suamiku bersikap aneh dan sok romantis seperti ini. Pakai acara membaca puisi segala di tengah malam begini. Aku masih berdiri dan tidak menggubris ajakannya.
“Ayoook!” akhirnya dia menarik tanganku yang tetap berdiri bengong. Aku menurut dan terpaksa duduk disebelahnya.
“Dengar ya! Judulnya Purnama Bulan Juni.”

Purnama Bulan Juni

Pernah kuhabiskan puluhan senja bersama seseorang
Dan setiap menuju malam, kutitipkan bekas kecupan di keningnya
Juga menunggu fajar bersama orang yang sama
Selalu  kutebus dinginnya pagi, dengan genggaman hangat di jemarinya

Dia,
Aku menemukannya dengan sangat sederhana
Sesederhana ia bersama mimpi-mimpinya
Aku menemukannya suatu pagi dalam gerhana
Tawanya membiusku, sejak kali pertama kita bersua

Ah, ia bukan seorang rupawan
Tapi sungguh menawan....

Seseorang itu,
Aku pernah kuyup bersamanya
Di penghujung bulan November
Tak apa, ujarnya kalau itu
Seperti halnya senja, ia juga jatuh cinta kepada hujan

Kamu tahu seseorang itu siapa?
Ia adalah kamu,
yang sekarang tengah bersamaku
Ia adalah kamu,
yang berada di bawah purnama bulan Juni

............

Pesisir Selatan, 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....