Lorong Waktu
Tokyo 12 April 2020
Malam masih panjang. Secangkir kopi hangat menemaniku, bersama tumpukan berkas bahan perkuliahan yang harus aku
presentasikan besok pagi. Dari tadi siang, ia masih tergeletak utuh di atas
meja. Belum tersentuh sama sekali. Malam ini, Tokyo tak seperti biasanya. Walau
sekarang masih musim semi, udara dingin tiba-tiba menyergap usai jingga berlalu
di ufuk barat. Musim dingin baru akan menyapa awal Desember mendatang.
Malam ini memang tak
seperti biasanya. Nada WhatsApp di Hp ku terus berdering dari tadi. Dihujani
pesan-pesan darinya. Dia. Seseorang yang setahun belakangan seakan hilang dari
radarku. Aku terima alasan darinya. Dia sibuk dengan tesis dan menyiapkan ujian
akhirnya di University of Sorbonne, Prancis. Belakangan, aku dapat kabar. Dia
telah menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan sejak awal tahun kemaren telah
kembali menetap di Jakarta.
Benar saja, sejak pukul
tujuh sore tadi, pesan-pesan darinya memenuhi Hp ku. Ia berjanji akan
menjumpaiku. Ingin bertemu.
“Besok sore pukul 5. Aku menunggumu di
hotel Monterey Ginza. Dekat stasiun Tokyo,” pesan terakhir darinya.
Aku menetap di Tokyo sejak lima musim
lalu, untuk memenuhi janji-janjiku padanya.
“Bagaimana
kabarmu sekarang?” aku sengaja tak menjabat tangannya saat mendekat ke kursi
tempat ia duduk. Aku tahu, ia akan menolak uluran tanganku.
Kupandangi wajahnya yang sedikit lebih
berisi. Tubuhnya, walau dibungkus jilbab dan menggunakan pakaian serba longgar,
aku tahu ia lebih gemukan sekarang.
Kurekam dengan detail setiap senyum yang
lepas dari bibirnya. Derai tawanya. Sungguh, aku merindukan pemandangan itu
sejak tiga tahun lalu.
“Hmm...,”
masih dengan wajah seceria biasanya. “Kau benar-benar menggenggam mimpimu di
sini?” dia adalah orang pertama yang aku kasih tau, betapa aku ingin
melanjutkan pendidikan di kota ini.
“Seperti yang kau lihat.”
“Still, automotive?”
“Ya. Aku akan menciptakan sebuah mobil
untukmu.”
“Wow... it’s so awesome.”
Percakapan kami didominasi oleh derai
tawa renyahnya. Dia sama sekali tak berubah. Masih sehangat yang dulu. Masih
Kirana yang ku kenal di awal-awal kita kuliah. Di kelas Bahasa Indonesia.
“Jadi, bagaimana rasanya menjadi
mahasiswa Tokyo?” dia bertanya di sela-sela tawanya.
“Yah... aku menikmatinya. I always enjoy my
time in here.”
“Oh, ya? Kuliahmu lancar?”
“Alhamdulillah.”
“Mmm.. bagaimana dengan dia?”
“Siapa?”
“Kekasihmu?” suaranya sedikit merendah.
“Dia baik-baik saja. Sekarang bekerja di
salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Hubungan kami juga baik-baik saja.”
Aku tidak tahu apa makna baik-baik saja yang barusan aku ucapkan.
“Oohh....”
“Bagaimana denganmu?”
“Apanya?”
“Aku melihat blogmu. Membacanya.”
“Oh, ya?” dia kembali tersenyum
sumbringah.
“Dia siapa?” dan dia langsung tertawa
mendengar pertanyaanku.
“Bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang
mengaku menjadikanku sebagai sesuatu yang penting dalam hidupnya, menyayangiku,
melakukan banyak hal untukku, dan menginginkan aku menjadi kekasihnya.”
“Lalu?” aku sedikit lebih antusias
mendengar ceritanya. Sekarang dia lebih blak-blakkan dibanding sebelumnya.
“Ya jelas aku menolaknya. Kau paham
bagaimana aku. Tapi....,” dia menggantung kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Setelah mendengar penolakkan dariku,
dia berlalu dengan perempuan lain.” Dia tersenyum kecut di ujung kalimatnya.
“Sebegitu mudahkah? Sebegitu cepatkah?
Aku benar-benar tidak paham bagaimana cara lelaki jatuh cinta,” dia menatap
mataku. Seolah menuntut jawaban di sana.
“Barangkali, lelaki memang tercipta
seperti itu.” Jawabku sedikit enteng.
“Maksudmu?”
“Yah... mungkin lelaki memang tercipta dengan
perasaan dan kelakuan seperti yang kamu ceritakan.”
“Kamu juga?” dia tersenyum.
“Menurutmu?” aku balik bertanya
mendapati pertanyaan ambigu darinya.
“Ahahaha... aku cukup tahu siapa kamu.
Juga perasaanmu, padaku.” Dia kembali tersenyum menatapku.
“Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang
perasaanku padamu.”
“Tapi aku paham apa yang kau rasa.” Suhu
di ruangan cafe hotel tiba-tiba terasa lebih panas dibanding saat pertama kali
aku datang. Tubuhku sedikit berkeringat.
“Memangnya, apa yang kurasa?” tanyaku
sedikit hati-hati.
“Ah, sudahlah. Lupakan! Itu hanya masa
lalu.” Dia mengelak, seperti menyingkirkan sesuatu yang tak ingin untuk dibahas.
“Bar...” kali ini dia bicara dengan
wajah yang sedikit serius.
“Ya?”
“Kamu yakin hubunganmu denganya
baik-baik saja?” dia menatpku intens, penuh selidik.
“Iya. Kenapa memangnya?” aku tak begitu
heran dengan tatapannya.
“Awal tahun lalu dia menghubungiku. Dia
menelponku. Dan minta penjelasan tentang hubungan kita.” Aku tetap tenang
mendengar penjelasannya. Sudah menduga ia akan menyampaikan hal itu.
“Lalu, apa katamu?”
“Aku bilang kalau kita tak punya
hubungan apa-apa. Tak lebih dari teman. Atau sahabat lebih tepatnya.
Kenyataannya kan memang begitu.” Dia menuntaskan kalimatnya.
“Lalu?” aku merasa dia belum menceritakan semuanya.
“Lalu?” aku merasa dia belum menceritakan semuanya.
“Yaaa... Dia sih bilangnya cuman mau
tanya aja. Agar gak terjadi salah paham. Buat ngelurusin gitu.”
“Hmm.... syukur deh,” ujarku pendek.
“Sebenarnya ada masalah apaan sih, di
antara kalian?” lagi, dia seperti mencoba mengorekku. “Dia bilang, kau memajang
foto kita di akun media sosialmu?” sambungnya.
“Iya. Kenapa memangnya?”
“Ahahah...” dia kembali tertawa, seakan
mengejek apa yang pernah aku lakukan.
“Bar, serius kau melakukannya. kau masih
menyukaiku?” masih sambil tertawa.
“Masih? Aku tak pernah sebelumnya
mengatakan bahwa aku menyukaimu?”
“Jujur saja Bar! Aku tahu bagaimana
perasaanmu.” aku seperti seseorang yang tengah tertangkap basah sekarang.
“Ya. Sejak awal hingga sekarang.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.
“What...? Jadi...” aku langsung memasang
wajah datar padanya.
“Ok. But, why? Kamu menyimpannya terlalu
lama, Bar. You don’t have a brave to sayed for me?”
“Ya. Dan aku memilih menjadi pengagummu,
Ran. Terserah kalau berpikir aku pengecut.”
“Sampai kapan kau akan seperti itu. I
mean, perasaanmu?”
“Aku belum berpikir untuk berhenti.
Hingga saat ini, aku masih.... Aku masih menyukaimu. Aku mengagumimu. Dan hingga
kini, hanya sebatas itu. Izinkan aku untuk tetap bisa mengetahui tentang hidupmu,
hari-harimu. Izinkan aku untuk tetap bisa menatapmu dari jauh.”
Allahuakbar... Allah...
kalimatku terhenti sampai di situ. Suara azan dari HP nya menyadarkankanku.
Kita ngobrol sudah hampir dua jam dari tadi.
“Oh,
sudah masuk waktu magrib. Aku harus segera kembali ke kamar, Bar. Hmm... lusa
aku akan kembali ke Jakarta. Aku di sini memang tidak lama. Hanya dua minggu,
itu pun sudah dipenuhi jadwal riset untuk bahan penulisan novel keduaku. Insya
Allah, novel pertamaku akan resmi diluncurkan awal Mei mendatang. Aku sangat
berharap kau hadir hari itu. Dan....” dia menjeda kalimatnya. Lantas
melepaskan napas panjang nan berat.
“Dan... seseorang akan
melamarku pada bulan yang sama. Lelaki pilihan keluarga Ayahku.” Dia
benar-benar menuntaskan kalimatnya. Dan segera berlalu bagai angin senja yang
langsung lenyap bersama sang surya. Selepas kepergiannya, secarik kertas tergeletak
di atas meja. Dia sengaja meninggalkannya. Selembar tiket Tokyo-Jakarta dan
Jakarta-Tokyo. Jadwal penerbangan pada pagi dan malam hari, hari kelima di bulan
Mei.
Pesisir Selatan, 2017

Komentar
Posting Komentar