Limoe

5enja :)

Hari ini adalah hari bahagiaku. 
Setidaknya itulah yang ada di pikiran banyak orang. Walau sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku benar-benara bahagia atau justru sebaliknya.
Yang pasti, perjuanganku untuk menambahkan tiga huruf baru di belakang untaian namaku hari ini akan berakhir.
Semua orang mengucapkan selamat. 
Mereka menyalamiku. Memberikan puluhan tangkai bunga, boneka, dan doa-doa yang membuat jantungku sedikit terenyah.

Beberapa keluarga dan saudara juga datang dari kampung. Kakek dan nenekku. Paman, bibi, adik, juga sepupu-sepupuku.
Tak menyangka mereka mengingatku. Mereka.
Lalu, bagaimana denganmu?


Jauh-jauh hari sebelum hari sakral (bagi sebagian orang) itu datang, aku telah menceritakannya padamu.
“Ayah-ibuku gak akan datang, dan aku berharap kau juga tidak menghilang nantinya.” 
Waktu itu, kau hanya mengiya-iyakan ucapanku.
Namun, apa yang terjadi setelahnya. Malam sebelum hari itu datang, aku coba menghubungimu. Dan kau memberikan jawaban yang cukup untuk membuatku tersenyum setawar mentega. Kau benar-benar lenyap dari radarku. Kau tidak bisa dihubungi.
Sungguh, kau sengaja menghilang.

Hingga namaku dipanggil dalam ruangan besar itu, aku tetap tidak menemukan sosokmu. Aku tidak tahu harus merasa kecewa atau bagaimana. 
Namun, serbuan bunga, boneka, dan ucapan selamat dari teman-temanku mengalihkan ingatanku darimu. Setidaknya, aku masih tetap bahagia. Walau tak sempurna.
Lalu, setelahnya apa yang terjadi. 
Aku menemukanmu tengah berbaring di ruangan itu. 
Ruangan yang..... entahlah.
“Di sini kau rupanya. Kau sembunyi dariku, dan sengaja tidak datang?” pertanyaanku sedikit menghakimimu.
“Ah, selamat ya! Maaf gak bisa datang, aku sangat sibuk,” kau bangkit dan mengulurkan tangan untuk menjabat tanganku.
“Sudalah. Kata-kata selamatmu sudah terlambat.” Aku membiarkan tanganmu menggantung di udara. Kau tersenyum datar dan menarik kembali tanganmu.
“Sebaiknya, kamu antar aku pulang sekarang!” pintaku.
Kau menurut, mengangkat kardus-kardus berisi bunga-bunga dan boneka yang diberikan saudara dan teman-temanku.
Dan, tentunya tak ada bunga maupun boneka darimu di sana.
Sepanjang perjalanan mengantarku, kita tetap bicara seperti biasa. Kau dan aku memang pandai berpura-pura, seakan tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Malamnya, kau kembali menemuiku. Menungguku di depan pagar. Lalu menyerahkan sebuah bingkisan yang tak pernah ku tahu apa isinya.
“Aku tak punya uang. Aku hanya punya waktu,” ujarmu menyerahkan bingkisan itu.
“Thanks,” ujarku sebelum kau berlalu.
.........
“Hanya punya waktu katamu. Nyatanya tadi siang kau menghilang dan mengaku sibuk,” sungutku dalam hati.
................
Aku membuka bingkisan darimu. Sebuah kado sederhana, 
dan....
Aku tidak tahu, bagaimana harus menggambarkan perasaanku.

“Tidak berlebihan untuk angka ini, ttd Limoe”
Tulismu, pada catatan kecil di atas kadomu.


Padang, 2017 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....