Surat Pendek untuk Tuhan

Tuhan, Aku (Belum) Ingin Menyerah


Me


Tuhan, ini merupakan surat pertama yang aku tulis untukmu. Selain curhatan yang aku beberkan panjang lebar dalam doa-doa di atas sajadahku. Rasanya, kali ini aku menjadi hambamu yang paling lemah dan nyaris putus asa. Aku seperti tak punya kerangka lagi yang mampu menopang beban di atas pundakku yang kian tak berdaya. Maafkan aku menjadi hambamu yang sangat lemah.

Tuhan, sebelum aku tuliskan pada coretan ini untukmu, aku yakin engkau Yang Maha Tahu jauh lebih paham apa yang aku rasa. Tentang hari-hari berat yang kadang ku lewati dengan lelah. Atau terkadang aku justru nyaris lari dari rahmatmu yang maha luas.

Tuhan, ceritaku masih perihal kesehatanku yang terganggu sejak beberapa bulan belakangan. Setidaknya, aku sudah menghabiskan sembilan bulan lebih melewati hidup tak normal. Makanan yang serba tak boleh aku menikmatinya, juga obat yang rasanya selalu membuatku mengeluarkan isi perut tiap kali meneguknya. Lagi-lagi, maafkan aku yang hanya bisa mengadu dengan cara yang entah engkau meridhoinya atau tidak.

Tuhan, jika hanya sekadar tidak boleh menikmati makanan sesuka hatiku atau harus meminum obat yang luar biasa tidak enaknya, mungkin aku sudah ikhlas. Sebab, semua demi memulihkan kondisiku. Tapi jika harus bolak balik menuju tempat berobat dengan jarak yang tidak dekat dan kondisi jalan yang berbahaya, aku sudah tidak sanggup lagi, Tuhan. Aku yakin engkau jauh lebih memahami ketidakberdayaanku. Betapa aku lelah. Aku berasa ingin mengakhiri perjuanganku hingga sampai di sini.   

Namun, bukan berarti aku akan berhenti untuk tetap berharap akan ridho, rahmat, dan hidayahmu untuk kesembuhanku. Aku akan tetap berjuang Tuhan. Aku akan tetap berusaha untuk sembuh. Aku sangat bersyukur atas semua kemudahan dan kelapangan yang engkau berikan padaku selama ini, walau aku tengah sakit. Banyak hal yang bisa aku lakukan yang bahkan orang lain mungkin belum bisa melakukannya.

Hanya saja, aku tak lagi menempuh jalan yang selama ini aku perjuangkan untuk sembuh. Jangan biarkan hamba termasuk hambamu yang berputus asa dari rahmatmu. Jangan jadikan hampa menjadi hambamu yang sia-sia. Ampuni semua dosa-dosaku Tuhan. Angkatlah penyakitku dan berikanlah kesembuhan padaku. Aamiin...

Tuhan, bantu aku utuk tidak menyesali keputusan ini suatu saat nanti.

Shinju. Padang, 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....