Ishinta

google

Tak ada cara terampuh untuk melupakanmu, selain membunuhmu (dari pikiranku). Mungkin ini terdengar jahat, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. *

“Kau benar-benar ingin aku mati?”
“Ketimbang kau pergi dan membawa jiwaku”.
“Tapi ini pilihan, dan aku sungguh tak punya jaminan apa-apa untukmu ke depannya”.
“Berjanjilah untuk bertemu lagi, biar ku genggam hatimu”.
“Maaf, aku tak bisa berjanji”.

Setelahnya, kau berubah menjadi patung. Terbang jauh bersama pikiranmu yang hingga sampai kapan pun takkan mampu untuk ku tembus. Walau tak putus asa, namun aku kehabisan cara untuk meyakinkanmu.
Ruang di dadaku tiba-tiba terasa gelap sama sekali. Tak ada setitik pun cahaya yang mampu mebantuku untuk menatap manik di wajahmu. Aku entah dimana.**

Pagi-pagi sekali, kau bangun dari tidurmu.
“Aku akan segera pergi,” ujarmu lirih.
“Kau butuh ini,” aku meletakkan sebuah jacket di sampingmu. Di atas ranjangku yang kau anggap sebagai milikmu tadi malam. Kau berdiri, kemudian pindah ke sofa panjang di samping tempat tidur sambil menyandarkan kepala di sana.

Pagi masih terlalu kelam, di luar senyap temaram. Udara pagi mendesis mengikuti putaran baling-baling kipas yang tergantung di lagit-langit kamarku.
Kau mematung memejamkan mata.
Aku mendekat, menyentuh punggung tanganmu.
Kau tak bergeming.
Aku meremas seluruh jemarimu. Kau membalas, masih dengan mata terpejam.
“Selamat berbahagia!” ujarku dengan nada yang kupaksakan untuk terdengar tabah.
Kau menatapku dan tersenyum kecut.
“Kau ucapkan itu untuk apa?” balasmu.
Aku diam, kemudian mengecup buku-buku jarimu.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa melupakanmu?”
“Kau punya dirinya”.
“Tapi dia bukan kamu”.
“Apa bedanya?”
Aku tak menjawab. Hanya mampu menatapmu dalam diam. Kita seperti sepasang patung yang tengah dipahat dalam pagi buta.
Kau tersenyum, menggenggam tanganku seolah takkan pernah untuk kau lepas.
“Terimakasih telah menyayangiku,” suaramu terdengar seperti desisan.
Kabut mengembang di matamu.
“Terimakasih untuk mau aku sayangi,” balasku dengan senyum yang entah benar-benar berasal dari hatiku.
Kau masih menggenggam tanganku. Di luar, pagi tak lagi setemaram tadi. Mentari memecah  jarak malam dan siang, seakan paham dengan maksud hatimu.
“Aku akan mandi,” ujarku. Kau melepas genggaman tanganmu dengan lemah.
Aku meninggalkanmu. Berlalu beberasa saat.
Sekembali ku ke kamar, aku tak lagi menemukan kopermu, jaketku di atas tempat tidur. Juga kamu. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....