Menjadi Suporter Cerdas
google
Demam
ASEAN
Football Championship (AFF) kembali melanda suporter Indonesia. Setelah
dua periode absen maju ke final pada ajang sepakbola terbesar untuk
negara-negara ASEAN, tahun ini Tim Nasional (Timnas) Indonesia kembali
menampakkan tajinya. Usai menang atas Vietnam dengan skor 2-1 pada leg pertama
yang digelar di Stadion Pakansari Cibinong, Sabtu, 3 Desember lalu. Empat hari
setelahnya, Timnas mesti bertandang ke Vietnam
guna menjalani semifinal leg kedua.
Hal
ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi pendukung dan suporter tim
garuda Indonesia. Dari awal, animo masyarakat Indonesia sudah sangat tinggi. Hal
ini terlihat dari penuhnya Stadion Pakansari Cibinong saat leg pertama
berlangsung. Tak sampai di situ, pada leg kedua yang merupakan babak semi final dan
berlangsung di My Dinh National Stadium, ratusan
suporter Timnas pun bertandang ke Vietnam demi memberikan dukungan kepada tim garuda
Indonesia.
Banyak
hal mendebarkan yang terjadi selama babak semi final berlangsung. Seperti yang acap disampaikan komentator sekaligus
pengamat sepakbola Hadi Gunawan, permainan membuat jantung penonton menjadi
dag-dig-dug-der. Hingga akhirnya, wasit meniup peluit panjang dan Indonesia
berhasil menyingkirkan The Golden Stars dengan
agregat 4-3.
Permainan
yang berlangsung selama 120 menit tersebut memunculkan berbagai reaksi dari
penonton. Di My Dinh National Stadium, selain
riuh rendah sorak sorai suporter yang mendukung skuat Vietnam, juga ada suporter
nakal yang sengaja melemparkan sendal ke salah satu pemain Indonesia yang
tengah bersiap melakukan tendangan pojok. Tak hanya itu, aksi tak sportif dari
suporter Vietnam ini juga berlangsung hingga ke luar stadion. Kaca mobil Timnas
pecah dilempari batu oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Meski hal tersebut
bukanlah sesuatu yang tidak pantas, namun ini membuktikan penonton Vietnam juga
memiliki dukungan dan antusias yang tinggi terhadap tim andalannya.
Begitu
pun halnya di Indonesia. Merupakan pemandangan yang lazim terjadi saat Timnas berlaga
di ajang sepakbola kawasan Asia Tenggara. Suporter bukan hanya orang-orang yang
bersorak sorai di stadion saja. Jika di tengok lebih dalam, mulai dari rumah
pribadi, kedai-kedai, pos ronda, cafe, atau di manapun yang memiliki fasilitas
TV yang bisa menayangkan siaran langsung pertandiangan, masyarakat akan
berbaris menonton Timnas. Kekompakkan untuk menyoraki gol, akan terdengar keras
jikalau salah seorang pemain Timnas menghujamkan tendangan ke gawang lawan.
Apalagi jika benar-benar gol, rasa nasionalisme masyarakat seakan menjalar ke
urat nadi. Jikalau Timnas menang, Indonesia adalah negaraku.
Namun,
berbeda halnya jika Indonesia kalah. Penonton pun akan bersikap lain lagi. Meski
permainan belum selesai dan waktu pertandingan masih ada, semangat penonton
untuk tetap mendukung Timnas berangsur memudar. Satu persatu di antara penonton
akan mulai meninggalkan layar TV. Berbagai umpatan pun terlempar. Lalu mereka
akan menjauh, dan tempat menonton yang awalnya ramai menjadi sepi sama sekali.
Esoknya,
penonton yang awalnya memberikan dukungan dengan sepenuh hati berubah menjadi
dingin. Mereka tidak mau lagi membahas keunggulan Timnas. Yang ada di pikiran
mereka hanyalah Timnas itu bodoh, dengan tim sekelas itu saja bisa kalah, sepakbola
Indonesia tidak akan pernah maju, permainannya tidak pernah berubah, dan pelatih
yang dibayar mahal pun tak ada gunanya. Para pemain Timnas sebaiknya main di
kampung masing-masing saja.
Dalam
hal ini, dua hal yang berlawanan terlihat begitu jelas. Suporter, yang
diartikan masyarakat Indonesia hanya butuh menang, jangan sampai kalah. Itu
saja. Jika kita menengok lebih luas, dukungan suporter suatu negara sangatlah
penting. Di saat tim sepakbola negaranya kritis dan terpuruk, suporter adalah
pemain ke-dua belas yang memberi tenaga baru buat timnya untuk bertanding.
Begitupun pemain, mereka akan memperjuangkan nama baik negaranya karena dukungan
penuh dari suporter.
Namun,
dewasa ini fenomena suporter Indonesia memang sedikit memprihatinkan. Di kala
jagoan menang, berbaga pujian mengudara ke angkasa. Cemeeh pun saling berburu
menuju lawan. Anehnya, jika jagoan kalah, suporter yang awalnya mendukung
sepenuh hati, akhirnya tak segan-segan melontarkan kata-kata kecewa dan
kekesalan serta umpatan yang tak bermanfaat kepada tim yang awalnya didukungnya.
Kita
mestinya bisa melihat ke negara luar. Rakyatnya yang tidak seberapa, tapi bisa
kompak dan sangat mendukung pemain bola dari negaranya. Contohnya saja
masyarakat Inggris. Saat keseblasan dari Inggris berlaga di lapangan, lebih
dari 97% warga negaranya akan memberikan dukungan terhadapat tim Inggris.
Tentunya tak sekadar menjadi suporter di saat The Three Lion tengah menang. Hal
yang sama tetap mereka berikan saat timnya berada pada posisi terpuruk. Andai itu
juga berlaku bagi suporter Indonesia, maka pemain Indonesia akan semakin
bertenaga. Sebab, kalau dihitung, jumlah rakyatnya adalah ketiga terbanyak di
dunia.
Dengan
melenggangnya Indonesia ke final dan berjumpa tim Gajah Putih Thailand pada 14
Desember mendatang, diharapkan suporter Indonesia memberikan yang terbaik dan
mendukung Timnas sepenuhnya. Hanya selangkah lagi bagi Timnas untuk maju menuju
juara. Bagaimana pun hasilnya nanti, suporter cukup percaya, Timnas akan
melakukan yang terbaik untuk Indonesia. Sebab, sebagai suporter dan pendukung sepakbola, sudah
sepatutnya masyarakat Indonesia menjadi suporter yang cerdas dan ramah. Tak perlu
sombong saat tim jagoannya menang, dan tak usah menghujat jikalau tim jagoannya
kalah.*
Oleh: Arrasyd, Shinju

Komentar
Posting Komentar