Jangan Pernah.....

google

“Kamu mau pesan apa?”
“Aku gak makan”.
“Kenapa?”
“Masih kenyang. Nanti aja”.
.........
Diam.
.........
Masih diam.
.........
Dalam diam.
Kau menikmati pesananmu, semantara aku menikmati pemandangan kau yang sedang makan di depanku.

“Habis ini mau kemana?” kau menyelesaikan sarapan pagi yang kau rangkap dengan makan siangmu.
“Gak tau. Minum ini!” aku menyodorkorkan susu instan yang sudah kuminum separohnya.
Kau meraihnya.
“Hati-hati, ada bekas lipstik ku,” ujarku sebelum kau sempat meneguknya.
“Suatu saat juga bakal jadi milikku,” ujarmu dengan ekspresi yang tak mampu ku baca.
“Jadi milikmu, setelah kau biarkan orang lain memilikinya terlebih dahulu,” balasku skeptis. Aku tau, percakapan yang mungkin terdengar fulgar ini, mengarah pada titik hanya kau dan aku yang paham maknanya.
“Kenapa kau tidak menjadi yang pertama saja?”
“Kau terlalu jauh bagiku”.
“Maksudmu?”
“Ayu yakin kau memahaminya?”
“Oh, ya. Jadi kau berharap kekasihku akan mati lebih cepat suatu saat nanti?”
“Hkmm...” kau mengangguk tanpa dosa.
“Bagaimana kalau yang mati itu adalah kamu?”
“Maksudmu?”
“Aku yakin kau paham maksudku”.
Sesaat, kau menatapku dalam diam.
“Hahaha... sudahlah. Jangan pernah lagi kau berpikir untuk menunggu jandaku!”.
***
Aku menatap setiap inci dari wajahnya. Tenang seperti bayi yang terlelap dalam mimpi. 
Dadanya naik turun dengan teratur setiap kali ia bernapas. Damai menyelinap di setiap helaan udara yang dihirupnya.

Dia, seseorang yang tengah terlelap di sampingku sekarang, masih laki-laki yang sama. 
Laki-laki yang barangkali sudah tak ingat lagi dengan kata-kata bodohnya lima tahun lalu.
Laki-laki yang lima bulan belakangan menghabiskan hidupnya bersamaku. Bersama jutaan kata yang tak henti-hentinya menari dari sepasang jemari kami.
Ia yang berjanji menjadikanku perempuan terakhir di hidupnya, di hadapan Tuhan, juga kedua orang tuaku.
“Tuhan, semoga Engkau tak menganggapnya bicara serius kala itu. Tentang kematian, juga aku yang akan ditinggalkan” harapku, setiap kali menatapnya seperti ini. ***

Suara azan subuh berkumandang dari masjid yang berjarak sekitar lima ratus meter dari rumah kami. Aku beranjak meninggalkannya, sebelum kepergok telah mematut wajahnya dari lima menit lalu.*

Padang, 2017. Di bawah kipas angin yang tak hentinya memupuk rindu.


Komentar

  1. Ada isyarat yang syarat akan makna. Mungkin aku hanya bisa menduga-duga.Biarlah dugaan bersemayam saja dalam benakku. Karna yang tau diri kita sebenarnya adalah kita dan Dia. Mereka yang kita pilih untuk diary sekalipun tak mampu memahami seperti harapan yang ada di tempat terdalam dalam relung hati.....

    BalasHapus
  2. Sungguh luar biasa..kipas pun terasa ingin jatuh. Tapi kadang selalu piring menampar ke wajah. Mungkin saja itu refleks dari kecepatan gerak yang tak mau kalah dengan putaran kipas

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...