Hujan
google
Semarang
siang ini.
Hujan
tak hentinya mengguyur bumi. Rintik yang semestinya mengingatkan ku pada hasrat
untuk menghangatkan tubuh, tiba-tiba beralih pada ingatan tentang perjalanan
panjang dalam pekat kabut malam.
Bukan,
hujan yang mengingatkan ku pada deras sungai.
Ya, sungai dengan aliran besar
yang menghantam bebatuan besar di pinggirannya.
Sungai yang memaksa memoriku
untuk mengingat kau. Kau yang tak bisa berenang. *
Lagi,
kau sibuk dengan laptop mu.
Novel
yang kau targetkan akan diserahkan ke penerbit bulan ini, belum juga selesai. Katamu
tinggal 55 halaman lagi.
“Enteng,”
ujarmu.
Seolah
55 halaman seperti menyelesaikan 5 halama saja. Saban hari kau berkutat dengan
karyamu yang ku anggap hampir basi itu.
Namun kau bersikekeh, kali ini kau akan
menciptakan karya yang tak biasa.
Katamu
judulnya sederhana saja. Dan ternyata memang iya.
“K” demikian satu huruf yang
aku temui pada desain cover yang telah diselesaikan jauh-jauh hari oleh tangan
sakti teman satu jurusanmu.
Aku
tak peduli dengan judul novelmu itu. Sekali pun itu adalah inisial namaku. Atau
bahkan inisial nama perempuan yang katamu akan kau pacari beberapa bulan lampau.
Apa peduliku.
Ok.
Bukan, bukan itu yang ingin aku sampaikan.
Ini
bukan tentang novelmu. Bukan juga tentang hujan. Apalagi sungai.
Ah,
pikiranku sudah kemana-mana. Entahlah.*
...............................
...............................
“Bar,
elo bisa berenang?” ujarku mengisi kebisuan kita siang itu.
“Nggak,”
jawabmu datar.
“Kok?”
“Karena
semasa kecil semua teman-temanku takut kepadaku,” jawabmu dengan nada sedikit
bangga, atau apalah namanya.
“Apa
hubungannya?”
“Sebab,
anak-anak yang biasanya bisa berenang adalah mereka yang berenang karena
terpaksa. Kan dilempar ke sungai. Mau tak mau, yah harus berenang. Kalau gak
mau tenggelam,” jawabmu lagi.
“Begitukah?”
“Iya.
Dan waktu kecil, tak ada satu orang teman pun yang berani menyentuhku. Apa lagi
melemparkan ku ke sungai”.
“Oh,
jadi itu yang menyebabkan elo gak bisa berenang hingga sekarang?”
“Hkhmmm...”
gumammu mengiyakan kata-kata ku.
“Logika
elo luar biasa Bar. Salut gue,” ujarku dalam hati. Dan diam-diam, perut ku
hampir kram menahan tawa.*
Di luar hujan belum reda. Dan kali ini, ingatan ku benar-benar terseret ke dalam pekat kabut malam itu.

Berenang memayung pada waktu itu
BalasHapusTidak percaya tak jadi masalah
Setidaknya percobaan sedang masa proses
Aku cari kamu dalam percayaku. Sebab, lelah juga terus berenang tanpa tahu kapan kan menepi. Semoga sangsi kan menghilang, setulus pagi yang melepaskan fajar untuk pergi.
BalasHapusah ta perlu, yakin saja sudah cukup
BalasHapuspercaya butuh proses yang lebih dari yakin
sudahlah, pagi masih akan datang
aku mau solok
pulang