Kamu #5
Google
Kita
kembali, menebas jarak yang selama ini pernah berada di pelukan. Aku ingin
memelukmu untuk melepas semua sesak karena rindu. Membagi seribu cerita selama
kau tak ada. Menjadi satu-satunya perempuan yang berani merengek sok manja
kepadamu. Kau telah kembali. Terimakasih untuk itu, Bar.
Namun,
ini sama sekali berbeda. Kita, kita bukan lagi kita yang dulu, Bar. Bukan,
maksudku kita masih yang dulu. Hanya saja, perasaan ini yang sama sekali
berbeda. Tak peduli, siapakah yang duluan terusik oleh sososk lain. Sebab, sejak
awal pun memang tidak sepantasnya kita berpikir untuk menjadi lebih dari sepasang
sahabat.
Malam
ini, seperti biasa aku memintamu untuk datang. Membawaku kemana pun yang kau
mau. Mengelilingi kota pada malam yang panjang. Walau pada akhirnya, aku sudah
bisa menebak kita akan menutup malam di tempat yang mana.
“Kita
makan dimana?” suaramu terdengar sayup di ujung angin malam.
“Terserah,” jawabku.
“Kau
masih memiliki jawaban yang belum berbeda, Ran,” protesmu.
“Iya.
Aku masih Kirana yang dulu, Bar. Elo jangan lupakan itu.”
“Dasar.
Ya sudah, kita makan di sini saja,” kau berbelok ke sebuah kafe, dan segera
memarkirkan motormu.
Kali
ini suasana cafe luput dari perhatianku. Bagaimana tidak, ini bukan kali
pertamanya kita mengahabiskan malam di tempat ini.
“Well,
kau mau aku pesankan, atau mau mesan sendiri?” tanyamu sambil membalik-balik buku menu.
“Terserah
elo deh, Bar. Gak usah bertanya untuk sesuatu yang udah elo ketahui jawabannya”.
“Ahaha...
ok. Aku tau, apa menu favoritmu di tempat ini,” ujarmu memesan makanan kepada
pelayan cafe.
“Jadi,
bagaimana perasaan elo setelah kembali lagi?”
“Biasa
aja,” kamu menjawab singkat tanpa menatapku.
“Yakin?”
“Yap.
Aku yakin, Kirana,” kau seakan berusaha meyakinkanku.
“Hanya
saja, aku mungkin bukan Akbara yang dulu lagi. Atau mungkin, kau bukan Kirana
yang dulu,” sambungmu lagi.
“Maksud
elo?” aku pura-pura tak paham maksud dari ucapanmu.
“Hmm...?” kau membalasku dengan tersenyum skeptis.
“Ah,
sudahlah,” ujarmu seakan putus asa dengan ekspresi datar ku.
“Ahahah...
Ini bukan malam terakhir kita bukan?” tawaku meledak melihat ekspresimu kali ini.
“Bukan
lah. Kecuali aku, atau kamu tak bernapas lagi besok pagi,” jawabmu di tengah senyum getirmu, yang tak bisa ku tangkap maknanya apa.
“Gila
aja lo.”
“Ahahaah... Kita
akan tetap bersama Ran, setidaknya selama kita masih berada di kampus ini,” ujarmu menatap dalam ke mataku.
“OK,
Akbara. Silahkan dihabiskan kan makanan elo, sebelum keburu dingin tuh!” ujarku sabil menyusup milk shike yang ada di atas meja.
“OK. Selamat makan...!!!”
Kita
hanyut pada perasaan masing-masing, yang menguap pada ruang kafe berwarna kuning remang. Pada akhirnya, kita berakhir dengan baik-baik saja. Ya, kita baik-baik saja. Seperti pertamakali kita bertemu. Tanpa ada emosi-emosi bodoh yang melelahkan hati kita.
Terimakasih Akbara, pernah hadir sebagai sesuatu yang berbeda.
Padang, 2016

Komentar
Posting Komentar