Kamu #3

google

Kau, maafkan aku yang telah melukai hatimu. Walau ragu dengan apa yang kurasa, namun ku yakin ini yang terbaik untuk jalan kita. Semoga waktu tak menunda untuk meluruhkan perih di dada. Selamat menemui persinggahan terbaik sahabat hati.

Ah... pikiran mulai tak sejalan dengan hatiku.
Membentang jarak sejauh apa pun saat kita tetap bersua adalah percuma. Kau selalu hadir di hari-hariku. Langkahmu, suaramu, tawamu, dan semua tentang dirimu aku takkan lupa. Terlalu sulit untuk membuangnya. Semua memori tentang kita pun selalu berputar di otakku. 
Ya, menemui mu nanti sore mungkin satu-satunya jalan terbaik. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti.

“Ran, kamu sudah siap? Aku di depan kontrakkanmu,” kau mengirimi ku pesan, pas saat aku tengah mengintipmu di jendela. 
Tidak tau apa yang terjadi denganku. Rasanya ada sesuatu yang menyumbat di dada. Ragu, kalut, atau apalah namanya. Yang pasti, aku tetap berharap semua akan baik-baik saja. Walau aku tak yakin hal itu akan berlaku pada hatiku.

Aku melangkah ke luar pagar usai menutup pintu. Kau langsung menatapku tersenyum saat aku mendekatimu.
“Sudah siapkah tuan putri?” sapamu dengan kekehan yang masih seperti biasa.
“Ok. Ayuk!” aku memaksakan untuk tetap tersenyum.
“Sini! helmnya aku pakaikan,” kau berdiri di hadapan ku untuk memasangkan helm berwarna coklat tua yang sudah terbiasa kau sediakan tiap kali kita akan bepergian.
Kali ini aku menurut. Mencoba tetap tenang menerima perlakuan manismu. Walau tak bisa dipungkiri, ada yang berbeda dari setiap perlakuanmu itu.

“Ok, ayo kita berangkat!” kau memacu motormu dengan sedikit lambat. Tidak biasanya, kau mau berlama-lama dengan kondisi jalanan yang sepi seperti sekarang.
“Sebenarnya kita mau kemana Bar?” aku membuka pembicaraan.
Selain rasa ingin tahu, rasanya aku hampir mati dengan perjalanan kita yang beku. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutmu yang biasanya tak bisa diam. Aku pun heran dengan diriku yang biasanya heboh. Kali ini aku merasa kerongkonganku tersumbat. Kering. Tak tau apa yang harus diucapkan.
Kau hanya menjawabku dengan gumaman.

Tak tau mengapa, akhirnya pertanyaan aneh keluar dari mulutku.
“Bar, hmm... kata-kata gue yang kemaren... gak apa-apa kan?” suara ku terputus dan kaku.
“Aku lagi gak mau ngebahasa itu sekarang, Ran.” Nadamu datar.
“Ok” aku hanya bisa menjawab dengan nada berbisik mendengar jawabanmu. Kau bahkan lebih dingin dari dari apa yang aku bayangkan.

Motormu tetap melaju. Sekarang dengan kecepatan yang cukup tinggi. Aku pun mulai menerka ke mana kita akan pergi.
Pantai, laut, lebih tepatnya sebuah dermaga. Mungkinkah, ini adalah salah satu tempat favoritmu yang kau rahasiakan dari radarku? Ok, itu tidak penting. Aku tak peduli. Ada hal lain yang lebih menyita seluruh otakku. Menenangkan detak jantungku jauh lebih penting sekarang.

“Kita sampai,” kau menghentikan motormu tepat di bibir dermaga sebelah kiri. Kilasan bayangan deburan ombak berwarna putih tepat berada di depan kita. Lampu lampu kapal di tengah lautan pun seakan menjadi bintang kecil di ujung mata. Satu dua orang nampak hilir mudik di sekitaran dermaga. Di malam hari, sepertinya dermaga memang tak seramai pada siangnya.

Kau masih duduk di atas motor. Memutar posisi dengan menghadap ke laut. Aku pun melakukan hal yang sama. Sesekali melirikmu. Kau mematung menatap ke depan. Sudah beberapa menit berlalu, namun kau tetap dengan posisi yang sama. Tanpa suara, dengan kedua tangan yang bersidekap di dada.
“Ran....” suaramu nyaris seperti bisikkan, namun aku masih mendengarnya.
“Ya?” aku menatapmu sejenak.
“Besok aku akan pergi, dan...” kau menarik napas mengambil jeda.
 “Aku harap tidak ada yang berubah saat aku kembali nanti,” kau menuntaskan kalimatmu, dan deg. Aku tak tau apa yang terjadi dengan jantungku. Ada aliran deras yang terasa dipompa dari sana.
“Lo mau pergi kemana Bar? Gak ada yang berubah maksudnya? Gue gak ngerti.” Seluruh tenaga ku kerahkan untuk mempertahankan suaraku. Walau tak yakin, Bara tak mendengar getar di sana.
“Aku akan pergi ke Singapur. Penelitianku, aku selesaikan di sana. Dan... beberapa bulan ke depan aku akan bertahan...” kau masih melanjutkan kalimatmu. Namun tak tau, apakah aku masih mendengarnya atau tidak. Telingaku terasa mendengung. Bahkan deburan ombak yang semakin keras di depan tempat kita berdiri pun luput dari pendengaranku.

“Dan... ehmm.. kamu masih mendengarkan aku kan Ran?” aku tersontak. Kau menatap ke dua mataku. Sebutir kristal luruh dari sana. Bodoh. Aku tertangkap basah tengah menangis.
“Iya, gue dengar kok,” ujarku dengan suara yang dibuat-buat normal.
Namun kau tak bergeming. Kembali menatap ke depan. Ke arah laut dengan gulungan ombak yang semakin membesar. Seakan ia paham dengan gemuruh yang tengah menyesak di dadaku.
“Aku ingin... saat kembali nanti kita masih bisa seperti sekarang, Ran. Gak ada yang berubah. Aku gak mau kehilangan Kirana yang sekarang.” Sesaat kau menunduk. Lalu menatap tajam ke dalam mataku.
“Kamu mau berjanjikan?” Nadamu meyakinkan.
“Gue... gak...” dadaku tersumbat. Tak tau apa yang harus aku ucapkan.
“Kenapa? Kamu mau berbohong lagi? Seperti beberapa hari yang lalu?”
“Maksud kamu, Bar? Kapan aku berbohong?” aku seakan tak terima saat kau pojokkan seperti itu.
“Sudahlah Ran. Aku mengenalmu gak sehari dua hari. Kita telah lebih dari dua tahun bersama. Dan kamu gak pernah sukses membohongiku.” Rahangmu mengeras. Apakah kamu tengah marah sekarang? Kalau pun ia, mungkin aku hanya bisa menerima kemarahanmu. Sebab, tak ada yang salah dari apa yang kamu katakan.

“Maaf kan gue, Bar.” Lagi-lagi butiran kristal itu jatuh. Tidak tahu mengapa, aku menjadi lebih cengeng sekarang.
“Aku... gak bisa melihatmu menangis, Ran.”  Kamu mengusap wajahmu prustasi. Membuang nafas berat. Lalu kembali menatapku.
“Aku tak minta kamu untuk selalu bersamaku selamanya. Tapi berjanjilah, kamu tetap menjadi Ran seperti yang aku kenal dari awal.” Suaramu melembut. Namun terasa mengiris ulu hatiku. Aku hanya mampu menunduk. Dan menjawab ucapanmu dengan anggukkan.

Aku tak sanggup lagi untuk berkata. Tak mampu lagi membatah. Karena berucap pun percuma. Kau sudah menelanjangi diriku habis-habisan. Bahkan kau telah membongkar isi hatiku dengan sangat lancang. Meneyelaminya, dan membuka semua tabir yang ada.
***

Malam masih panjang. Ombak kian menari. Meliuk-liuk memcumbu bibir pantai. Pergi. Kemudian datang lagi tanpa lelah. Angin pun membelai hingga ke tulang. Menerobos masuk ke dalam mimpiku. Mimpi yang berulangkali ku usir, namun kembali lagi dengan cerita yang sama. Mimpi yang tiap detiknya menampakkan wajahmu di dalamnya. Akbara Tanner... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....