Kamu #2

from google

Hujan turun dengan manisnya. Sesekali rintikannya yang menganak sungai mengalir di jendela kamarku. Menyisakan jejak-jejak hampir tak kasat mata, karena semuanya berbaur menjadi sebuah bekas aliran yang lebih besar. 
Ah, tidak ada yang lebih romantis dari hujan di sore hari. Sebab, saat itulah Sang pangeran kodok akan berkelana untuk mencari kekasih hatinya. Hingga akhirnya akan dibawa ke peraduan, tempat di mana mereka akan hidup bahagia selamanya. Kisah indah yang barangkali diimpikan setiap manusia.

Dongeng sebelum tidur masa kecil itu berkeliaran lagi di otakku. Hampir dua jam sejak hujan turun, hanya ini yang bisa ku lakukan. Duduk termangu dan merenung di depan jendela. Tak ada hal lain yang lebih menarik. Menostalgiakan kisah-kisah yang pernah ku baca waktu kanak-kanaklah yang mampu mengalihkan pikiranku dari kamu, Bar. Dari apa yang telah kau ucapkan lima hari lalu.


Antara percaya atau tidak. Tapi mengapa begitu sulit bagiku, melupakan sepenggal kalimat yang takkan pernah ku sangka kau akan mengucapkannya. Walau dalam pimpi sekali pun. Sungguh sangat sulit aku mempercayaiya.
Ah, lama-lama bisa gila aku bila terus mengingatnya.

Tapi tetap saja, lima hari menolak untuk tidak berjumpa denganmu, tidak mengangkat telepon, dan tidak membalas pesanmu bukanlah hal yang mudah untuk ku lakukan. Bagiku, membunuh rindu adalah bagian tersulit untuk diperbuat, Bar. Sungguh sangat sulit. 
***

Langkah ku terhenti.
Inilah hal yang paling ku kawatirkan dari tadi malam. Tidak berjumpa denganmu adalah hal yang mustahil untuk terjadi. Kecuali jika aku keluar dari kampus ini atau pergi dari kota ini untuk selamanya.
“Ran, tunggu...!!” Kau mencekam lenganku dari belakang.
“Lepas...!” aku menarik tanganku tanpa menatap wajahmu.
“Gak. Kita butuh bicara Ran!” suaramu tajam dan kau mempererat cekamanmu. Rasa sakit mulai mengaliri lenganku.
“Lepas, Bar! Gue mau ke kelas. Sekarang gue ada kuliah,” nadaku meninggi. Kali ini aku paksakan untuk mengangkat wajah dan menatapmu. Namun, lenganku masih terperangkap dalam genggaman tanganmu.
“Tidak. Sebelum kamu mau pergi dan bicara denganku,” kau menatapku tajam dan semakin mempererat cekamanmu.
Ah, ini yang paling ku benci dari mu Bar. Tatapanmu selalu berhasil menaklukkanku. Aku tak mampu lagi menolak kata-katamu.
“Ok, tapi lepaskan dulu tangan gue!” aku menarik tanganku yang terasa sangat nyeri. Akhirnya, kau bersedia melepaskannya.
“Lo mau bicara apa lagi Bar? Gue ada kuliah. Gak bisa lama-lama,” nadaku sedikit merendah.
“Gak di sini. Kita cari tempat yang lebih nyaman, Ran..” suaramu tak setajam tadi.
“Kamu ikut aku!!” kamu menarik tanganku. Kali ini aku hanya menurut. Mengekormu dari belakang. Terserah kau akan membawaku ke mana. Karena menolak pun ku rasa akan percuma.
“Kita bicara di sini aja,” kau menarikku untuk duduk sejajar di sampingmu. 
Hamparan danau membentang luas di depan mataku sekarang. Hah, tempat ini memang tidak ada duanya. Dari awal kuliah hingga sekarang, selain kelas, tempat inilah yang paling sering aku kunjungi saat berada di kampus. Udaranya yang segar dan pemandangannya yang indah, membuat ku selalu betah untuk duduk berlama-lama di bawah rindangnya pohon yang tumbuh di sepanjang danau. 

“Kenapa beberapa hari ini kamu menjauhi ku Ran?” pertanyaanmu membuyarkan lamunanku.
“Ha, kenapa??” aku tergagap. Kau menghembuskan nafas dengan berat.
“Kamu sengaja menjauhi aku Ran? Kamu jaga jaraknya keterlaluan banget. Aku bingung jika didiamin kayak gini.” Ok. Aku sudah menduga, kamu akan menuntut hal itu padaku.
“Jadi, gue harusnya gimana dong?” ujarku  tanpa rasa bersalah. Namun dalam hati, aku sedikit merasa jahat juga.
“Terserah, kamu mau menjawab pernyataan aku yang kemaren atau tidak. Aku gak butuh itu. Aku hanya ingin kita tetap bersama seperti biasa, Ran. Gak ada jarak antara kita. Gak ada istilah saling diam. Aku nggak suka keadaan semacam itu. Seperti yang kamu lakukan ke aku sekarang.” 
Tak ada kebohongan yang dapat ku tangkap dari apa yang kau ucapkan. Aku tau kau mengucapkannya dengan tulus. Matamu mengatakan hal yang sama, Bar.

“OK. Karena udah terlanjur datang ke sini. Tanpa lo minta pun, gue akan menjawab pernyataan lo yang kemaren, Bar,” ujarku spontan. Aku kurang yakin dengan apa yang barusan ku ucapkan. Apa yang bakal aku katakan ke Bara sekarang.
“Sebenarnya gue...”

Drrttt...drrttt...drrttt... 
Tiba-tiba ponsel yang berada dalam tas ku bergetar. Aku langsung menjawab panggilan yang masuk.
“Hello, Kirana. Lo di mana??? Pak Seno udah di kelas nih...” suara Nanik langsung melengking keras saat aku menyentuh tombol berwarna hijau di layar ponselku. Sahabat ku yang satu ini memang sudah terbiasa bicara sambil teriak-teriak.
“Iya, gue sekarang ke kelas,” jawabku, lalu mematikan panggilannya.
“Khmm.. Bar, kayaknya gue harus pergi sekarang. Sorry...” aku berdiri. Seakan melupakan ucapanku yang sempat terpotong tadi. Aku yakin, kamu mengerti posisiku sekarang.
Tapi rupanya tidak. 
Itulah sifatmu. Harusnya kau tarik kembali kata-katamu yang menyatakan tak butuh jawaban tadi, Bar. Kau menggenggam dan menarik tanganku.
“Tadi kamu bilang mau menjawab pernyataanku, Ran!” kamu menuntut lagi. Berdiri tepat di depanku.
“Tapi gue lagi buru-buru, Bar...” ku coba melepaskan tanganku dari genggaman mu. Lagi, sia-sia.
“Kamu jawab sekarang Ran! Ya atau tidak? Aku gak bisa lagi menunggu.” Suara mu penuh penekanan. Memaksa. Seperti titah seorang raja ke pada prajuritnya.
“Ok...Ok... gue kasih tau lo sekarang,” aku menarik nafas dan melepaskannya pelan untuk menetralkan emosiku. 
Kutarik tanganku dari genggamanmu.
“Gue gak punya perasaa apa-apa sama lo, Bar. Maaf,” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. 
Aku berlalu. Berlari kecil untuk kembali secepatnya ke kelas, dan meninggalkan mu dengan tatapan nan nampak kosong. 
Kamu bengong, seakan tak yakin dengan apa yang barusan aku ucapkan. Aku paham itu.
Tuhan, maafkan jika aku melukai perasaannya. 
Maafkan aku Bara. 
Sepertinya ini yang terbaik untuk kita....

 (20/7) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....