Duhai Engkau


google

Engkau tahu, duhai pria yang tengah duduk di sampingku. Diam-diam aku menikmati renyahnya tawamu. Senyum yang memesona dan suara yang tak bisa ku ungkap dengan apa. Aku merekam itu dalam ingatanku. Sungguh, aku tak bisa berhenti.

Engkau tahu, duhai pria yang tengah terperangkap bersamaku. Aku coba tuk hentikan itu dulu, tapi percuma. Aku kian terlena. Hanyut, dan akhirnya berhenti di sini. Di dalam hujan yang tak kian reda. Lalu, ada senyum yang berbeda dalam canda.

Engkau tahu, duhai hujan yang mulai hadirkan dingin menusuk. Kalau boleh, bisikkan pada dia. Berhentilah menyita perhatianku, merasuki mimpiku, dan berputar di memoriku. Karena terkadang begitu lelah, mengingatnya yang pernah tak menatap ku ada.

Engkau tahu, duhai pria masa lalu ku. Kehadiranmu yang sekarang jauh lebih mengusik dari yang dulu. Tak hanya bayang, sekarang kau hadir lebih nyata dari ekspektasiku. Haruskah aku dengan lancang meminta ke Tuhan, agar kau jadi milikku.

Engkau tahu, duhai angin yang yang hembuskan beku. Aku diam, dia pun diam. Waktu seperti berhenti. Lidahku kelu, dia hanya duduk membatu. Lalu tertidur tepat di hadapanku. Dia, walau tengah tidur pun tetap mengusikku. Sungguh.

Engkau tahu, duhai pria yang telah bersama yang lain. Aku menyimpan rasa ini. Jauh sebelum kau mengenalku. Tapi tenang, aku tak akan mengusikmu. Biarkan saja. Bila waktunya tiba, ia akan hilang dengan sendirinya atau justru semakin menjadi. Ya, aku tak bisa menjamin itu. Yang pasti, aku paham. Bagaimana rasanya, jika akulah wanitamu itu. Aku takkan bertindak lebih jauh.

Engkau tahu, duhai pria yang entah datang dari mana. Kau hadir mengusik hariku. Aku anggap ini skenario Tuhan. Jadi, biarkan berjalan apa adanya. Dia tahu yang terbaik. Dan untuk kamu, selamat berbahagia. Aku akan nikmati kisah ini.

-Edisi.G.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....