Daisy 2
Terperangkap
dalam Hujan
google
Jika
dulu aku berpikir bahwa kau sangat jauh tapi terasa dekat di hati, sekarang aku
rasakan yang sebaliknya Daisy. Sekarang kau sangat dekat, bahkan sangat dekat sekali. Di
sini. Kau bersamaku. Tidak dalam hitungan detik lagi. Tapi jam. Dan mungkin
juga malam ini. Apakah ini akan berlangsung lebih lama lagi. Entahlah. Aku pun tidak tahu.
Daisy,
Jika dulu aku berpikir akan merindumu seribu kali dalam sehari. Mungkin
sekarang sebaliknya.
Aku justru ingin melupakanmu seribu kali dalam sehari.
Kau menyita waktu ku terlalu lama. Berat untuk
menghalaumu dari pikiran ini.
Kali ini aku benar-benar terperangkap.
Kamu
tau, terperangkap bersama dalam ribuan hujan, itu bukanlah satu hal yang lucu,
apalagi derita. Semua orang akan setuju kalau itu romatis. Manis. Apalagi
bersama orang yang dipuja.
Ah, ibarat mendapat anugerah terindah bukan?
Tapi
entahlah.
Entah denganku. Bagaimana dengan kita?
Bahkan dalam hujan ini, suara rintik hujan
sungguh mendominasi.
Sementara kau, aku, kita hanya diam dalam kaku. Sungguh,
tidak romantis sama sekali.
Daisy,
Ini sangat jauh berbeda dari ekspektasi semua orang. Bahwa terperangkap dalam
hujan adalah anugerah. Ah, sudahlah.
Lalu,
awalnya aku berpikir, keadaan ini bukanlah
hal yang biasa.
Apakah seperti pertemuan yang sangat mengesankan. Rencana
Tuhan?
Aku pun ragu untuk menyebutnya apa. Yang pasti, semua jauh dari
perkiraanku.
Dari perkiraan semua orang.
Apa
sebenarnya yang terjadi?
Kita
terperangkap di tengah hujan. Kau sibuk bersayang-sayangan di telepon dengan
kekasihmu. Sementara, aku di sini bersenandung mengikuti irama rintik hujan.
Entah lagu apa yang tengah aku dengar. Aku merasa aneh sendiri, dan tidak tau mau
berbuat apa.
Ah
entahlah.
Daisy,
Aku
harap hujan ini segera reda.
Biar hati ini tidak terlalu lama dibalut
bingung. Karena aku pun mulai ragu. Apakah malam ini akan berakhir dengan
romantis.
Sebab, semua orang menyebutnya malam ini malam Minggu. Malam Minggu.
Huhu...
-Edisi.menungguhujanreda.

Komentar
Posting Komentar