"G"
Untuk kau yang telah aku janjikan, akan
memberikanmu tulisan ini jika kau menyelesaikan perjuangan pertama kita.
from google
Kau
mungkin tidak tahu dan takkan pernah tahu, bahwa kau bukan sosok yang biasa bagiku.
Jika belajar arti pertemanan, maka kau adalah salah satu orang yang ku tunjuk
untuk mengajarkan aku tentang itu. Dan aku bukanlah orang yang bisa menempatkan
rasa ke sembarang orang, sehingga bisa memilih dengan begitu mudah.
Mungkin
aku bukan satu-satunya dan bukan orang pertama yang mengalami hal seperti ini.
Namun, bagiku berpisah dengan cara saling menjauh adalah bukan hal yang keren
G.
Tiga
tahun bersama, setidaknya kau telah memiliki tempat tersendiri di hatiku. Ruang
yang sama sekali berbeda dengan yang lain. Dengan porsi yang tak sama pula.
Selama
perjalanan kita, mungkin tak sepenuhnya aku tahu seperti apa dirimu. Tapi aku
yakin, separuhnya telah kau beberkan seiring kebersamaan kita. Aku paham
bagaimana kau berpikir. Aku bisa membaca raut wajahmu saat kau muak. Aku
mengerti rona mukamu saat kau bahagia. Aku tau itu G. Walau aku takkan pernah
bisa selami hatimu. *
Hingga
akhirnya kau memutuskan untuk menyambung lagi kebersamaan kita pada tahun
terakhir ini. Terakhir kebersamaan kita yang utuh.
Adalah
kebahagian yang tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya G, saat kau ucapkan
kita akan bersama-sama lagi. Ada haru kala itu di dada ini. Keputusanmu adalah
kekuatan tersendiri bagiku.
Kau
sadar G, dari awal sejak hari itu, kita pun telah sepakat untuk bersama lagi dalam
perjalanan ini. Akan saling mendukung dan melengkapi. Menjadi pejuang yang tidak
gampang tumbang.
Aku pun belajar banyak dari cara pikirmu. Kamu yang unik, kamu yang egois, dan kamu yang kadang pesimis. Aku belajar banyak dari setiap ketangguhan serta kelemahanmu.
Aku pun belajar banyak dari cara pikirmu. Kamu yang unik, kamu yang egois, dan kamu yang kadang pesimis. Aku belajar banyak dari setiap ketangguhan serta kelemahanmu.
Kebersamaan
kita pun bukan tanpa maksud apa-apa. Ada tugas yang mesti kita selesaikan G.
Ada kebaikan yang harus kita sampaikan. Sesuatu yang mestinya memang kita lakukan,
karena tidak semua orang bisa dan mampu mejalankannya.
Kini,
saat matahari kian tinggi, saat-saat yang pasti datang sebelum senja menyambut,
kau taburkan kekhawatiran dalam benakku. Dadaku sesak rasanya saat kau
isyaratkan tanda perpisahan. Dengan tidak sadar, hatiku memberontak G. Akan
sangat pelik rasanya untuk mencerna jika nanti kau benar-benar ucapkan kata
itu. Sama sekali aku belum siap.
Ya,
aku tahu.
Adalah
egois rasanya, ketika aku meminta kau untuk tetap di sini. Kita tetap bersama.
Namun,
setidaknya kau pikirkan G. Berpikirlah apakah aku siap tanpamu. Berpikirlah
salah satu tangan atau kakiku akan lumpuh saat kau tak disini lagi. Berpikirlah
untuk mencoba tetap bertahan G. Setidaknya demi membayar hutang yang telah kita
mulai dari awal. Menebus janji yang pernah kita ucapkan.
Mungkin aku seperti bocah yang tengah merengek saat meminta itu padamu. Atau bahkan seperti tengah menghiba untuk dijabah. Tapi sungguh ini bukan hanya untukku G, ini untuk kita, dan demi sebuah kebaikan. *
Adalah orang yang memiliki tepat
tersendiri bagi Tuhan, saat mereka memiliki ilmu.
Adalah orang yang berguna bagi manusia
saat mereka bisa memberi.
Adalah manusia yang keren saat
mereka mampu melawan musuh terberatnya, yang tak lain adalah diri mereka sendiri.
Aku
tidak tahu arti mencintai yang sesungguhnya, namun aku resah saat senyum hilang
dari wajahmu. Ada rindu saat kau jauh, dan ada yang kurang saat kau tak di
sini.
Aku
juga tidak tahu apakah rasa butuhku lebih besar dari cinta, namun rasanya aku
akan rela-rela saja jika memang kau pergi tanpa membawa sesak dan luka G. Tanpa
ada jarak di antara kita.
Ah, kenapa harus jadi melankolis saat
memikirkanimu?

Komentar
Posting Komentar