Berjuang
Wartawan jalanan, relawan jalanan,
pejuang jalanan...
Barangkali, itulah kita.
Tak
semua panggilan harus kamu sahuti. Namun kali ini, aku, menyahut tanpa
pikir panjang dan menggunakan logika yang dalam. Tanpa tahu pasti siapa yang
memanggil. Yang jelas, paggilan itu telah datang.
Mungkin
seperti kebanyakan petarung pemula lainnya. Aku memutuskan berangkat ke medan
tanpa persiapan yang matang. Hanya ada dua senjata andalan yang aku pegang, modal
nekat dan keberanian.
Semenit
sebelum aku melangkah maju, tak pernah terpikirkan olehku untuk berada di
tengah mereka. Satu di antara empat teman asing. Yang baru ku kenal setelah
setengah jam perjalanan kami. Saat kita berhenti di sebuah kedai pinggir jalan.
Yang akhirnya ku tau, semua kalian bukanlah lelaki sembarangan. Ya, barangkali sama
seperti ku. Bg R, Bg I, L, dan I, kalian semua pejuang nekad, tanpa pikir
panjang. Kita tak beda.
Debu
jalanan bagi kalian mungkin hanya makanan ringan saat berada dalam kondisi
seperti ini. Ok, hanya asumsi ku saja. Itu pikirku.
Hujan
adalah anugerah. Setidaknya mesin motor kita bisa lepas dahaga dari panasnya matahari
sejak kota Padang hingga Padang Pariaman. Walau tak bisa ku pingkiri, aku
sempat menggigil sebelum masuk ke dalam selimut kresek itu.
BDW, thanks buat
kamu yang sudah bersedia membelikan aku bungkus ajaib yang super berisik saat
diterpa angin.
Bak
pergantian siang dan malam, begitu pula halnya hujan, berganti panas, hujan,
dan panas lagi. Sepanjang perjalanan, kita bongkar pasang benda ajaib nan
berisik yang melekat di tubuh. Hingga akhirnya kita sampai di kota yang
barangkali sudah dua kali aku menapakinya.
Kota
Payakumbuah. Ya, seingatku, waktu duduk di bangku esem’a, aku pernah beberapa
jam berada di kota ini.
Begitu
juga sekarang.
“Menunggu
seseorang,” begitulah yang ku tau. Sehingga kurang dari se-jam, aku pun kembali
mampir di kota yang katanya terkenal dengan masakan randang talua (rendang telur). Kami menunggu, hingga satu orang
teman asing bergabung bersama kami.
Tanpa
menunggu lebih lama, kami pun melanjutkan perjalanan menuju medan, usai
berjabat tangan satu sama lain.
Ok, kita sepakat.
Sekarang kita tak lagi orang
asing, tapi kita adalah tim. Ya, tim yang terdiri dari beberapa golongan.
Golongan nekat, golongan tanpa lelah, dan golongan tak tau arah. Yang terakhir
barang kali aku. Yang akhirnya menjadi satu.
Lagi,
hujan kembali menyapa. Walau tidak terlalu lebat, mungkin lebih romantisnya
boleh disebut gerimis pukul tujuh sore, seiring dengan panggilan untuk
memunajat kepadaNya. Kami pun mampir di salah satu rumahNya untuk melaksanakan
kewajiban kami.
Usai
menunaikan kewajiban, perjalanan pun dilanjutkan.
Kali ini semua jalanan telah
gelap. Rumah penduduk sudah agak jarang, jalanan pun juga sepi. Menelusuri
jalan yang sama sekali asing bagiku.
Kanan hutan, kiri jurang.
Hingga
akhirnya, kami melewati tempat yang beberapa bulan ini aku idam-idamkan untuk
ku kunjungi. Kelok Sembilan, demikian semua orang menyebutnya. Ah, tak
menyangka. Aku berada juga di tempat ini. Kali ini, diam-diam aku bersyukur dan
berteriak kegirangan di dalam hati.
Setidaknya
kurang dari se-jam, kami pun sampai di tempat tujuan, medan. Tempat bermalam,
makan apa, sama sekali hal itu terabaikan dari pikiranku, mungkin juga tim.
Yang kami pikirkan, bagaimana dengan hari esok, saat kami turun ke medan.
Malam
makin larut, lelah tak usah di bahas. Kami acuh. Hingga akhirnya semua yang
awalnya penuh tanya dan tawa telah lenyap. Semua diam dalam kelam. Hanya nafas
teratur yang barangkali setia mengisi sunyi.
***
Pagi yang tak biasa memeluk tubuh
yang agak panas dingin. Tak banyak berkomentar untuk tubuh yang setia dibawa ke
mana saja. Hanya berdoa, semoga tetap sehat saat dibawa kembali ke Padang.
Dua belas kilo meter kami tempuh
untuk menemui medan yang mesti kami datangi. Ya, mual berdesak-desakkan di atas
mobil ambulans yang ditumpangi hilang begitu saja saat sampai di lokasi.
Agaknya, aku tak punya waktu untuk memikirkan perut nan mulas.
Melakukan
hal yang harus di kerjakan di medan jauh lebih penting. Mendata mereka yang
habis berduka, tak usah bahas berapa banyak. Sebab, satu di antaranya ada yang
lebih. Menemukan puteranya yang tiga hari telah hilang, tanpa nyawa. Diseret
arus, yang merusak segalanya. Perasaan pasrah yang paling dalam. Luka.
Ya,
layaknya hujan dan panas, hidup dan mati juga pasti berdampingan. Semoga
aku-kita menjadi orang yang belajar dari alam.
Terik
berlalu, siang berganti gelap. Senja kiranya telah jadi malam. Panggilan lain
menggema di pikiran, untuk kembali ke Padang.
Sehari
semalam. Waktu yang terlalu singkat untuk belajar, berteman, apalagi berjuang.
Namun
setidaknya, banyak yang bisa kita dapat dalam waktu singkat. Arti berbagi, berteman,
dan berkawan dengan alam. Kita memahami.
Semoga
ada waktu yang lebih tepat untuk kita kembali berbagi. ***
Komentar
Posting Komentar