Jatuh Cinta






Masih semilir angin yang sama. Aroma asin air laut yang tak beda.
Masih yang dulu.

Hanya, kini ada kau di antara biru, hijau, putih, dan bening itu.
Di antara kuasaNya, ciptaNya, dan cintaNya.
Aku kembali, di tempat yang dulu aku berjanji akan ke sini lagi. Sebab, benar-benar aku telah jatuh cinta pandangan pertama.

Pada lembutnya belaian, hangatnya senyuman, dan indahnya tarian itu.
Cintaku yang entah bersambut atau tidak, pada ciptaNya. Tapi yang pasti, aku benar-benar jatuh cinta.
Angin, mentari, langit, dan laut. Sungguh, aku telah jatuh cinta.



Kini, aku kembali. Bersama kau ke tempat ini.
Ok, lagi. Aku bilang kau yang buat aku peduli, buat aku tersenyum, buat aku marah, dan buat aku jatuh cinta. 

Bukan muluk, tapi inilah sebuah pengakuan yang kuanggap berasal dari alam bawa sadar yang paling tulus. Jatuh cinta itu ya begini. Sakit, senang, marah, dan bahagia.
                                                                               ***


Dua kapal menjauh dari pelabuhan ketika Sang surya mulai keluar dari peraduan. Samar, deru mesin mengiringi gerakan kapal yang beranjak. Air laut menari dalam sunyi. Tak ada teriakan badai, apalagi tangisan hujan. 
Semuanya tersenyum. Seperti dia yang berada tak jauh dariku. Hatiku.

Kau alunkan melodi bersama gitar yang kau genggam. Seakan tak mau kalah dari anggunnya tarian air laut yang mengeliat dalam sunyi.

Kau tenggerkan benda unik berwarna hitam di atas kokohnya batang hidungmu. 
Kau berlagak. 
Jujur, aku juga menyukai benda ajaib satu itu. 
Percaya diriku melonjak ke langit jika menggunakannya. 
Ah, masa? Kau tak percaya? Sudahlah. Lupakan!

Jepret-jepret mengabdikan kenangan seakan jadi hal utama di perjalanan kali ini.
Aku yakin, jika buih di lautan bisa bicara, iya akan bilang “kalian alay wahai manusia” hahaha.

Kau seperti model sungguhan dan bintang film terkenal jika berlagak seperti itu. Cool. Aku menyukainya.

Kau juga seperti bidadarinya petinggi negeri ini jika menggunakan benda ajaib itu. Keren.
Kau, bukan, kau. !

Kapal terus jalan. Tak tampak lagi pelabuhan yang tadi. Kita- aku dan hatiku, kini telah berada di tengah belahan laut lepas. 
Semua jemarimu kian bertaut, kau bersatu dengan alam. Bersama keindahan.

Sadar? 
Sebuah pulau kecil, tepat di depan mata kali ini. Bagian dari cintaku telah menunggu.

Tak ada pilihan.
Pantai landai dan pasir halus mendekap langkah pertaku saat keluar dari air laut. Ku tatap. Ah, tak ada yang berubah dari tempat ini. 
Masih seperti yang dulu.

Pulau-pulau kecil berjajar, sambung menyambung seakan jadi satu. Bertaut. Seperti kita yang tersenyum bahagia. 
Oh ya, aku menyukai senyum itu. Ia yang merekah indah. Manis. Lagi, keren.

Biru, hijau, menantang cantik sejauh mata memandang.


Oh, kau yang berencana tentang kotak-kotak indah, memainkannya sepenuh hati. 
Ah, kau seperti ibu. Anggunnya lagakmu.

Gerakan liar nan menggoda Si ikan kecil mulai merayumu untuk melompat ke tengah laut. 
Tapi tunggu, aku tidak bisa bermain dengan air, cinta. Jadi tunggu aku, aku gunakan penyelamat hidupku. 


Aku tau, kulit mulai memerah. Tapi aku juga tau, aku pun belum puas dengan semua ini. Masih banyak memori tempo dulu ingin kuselami kembali. 
Di sini. Kali ini, bersamamu kasih.
                                                           ***

Dua kapal melaju.
Kembali ke pelabuhan. Mereka seakan pulang ke rumah. Tempat mereka membuang lelah.


Berbeda denganku.
Seakan tak rela, sebentar lagi akan berpisah denganmu.

Hitungan menit kita akan menjauh. Terpisahkan jarak, waktu, dan kesibukan.
 Ah... mengingat itu, rindu selalu bersarang di dadaku. Sesak.

Kini, kereta-kereta indah itu menunggu. Membawaku pergi. Membentang jarak antara kita.

Hingga, aku berakhir dalam lelap yang dalam. Memimpikanmu dalam tangis.


Cintaku.
Jatuh cinta ya seperti ini. Tak kenal, memahami, menyayangi, lalu kau pura-pura tak tau.
Aku, kau, kita telah jatuh cinta.

 *Sri Gusmurdiah




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....