Wanita Seharga Nasi Goreng


Pertama kali membaca tulisan ini, kamu (wanita) pasti merasa tersinggung.

Seharga nasi goreng? Tak adakah perbandingan yang lebih pantas dari pada itu?
Hmm.. tunggu dulu.

Barangkali kamu akan setuju dengan penulis jika kamu menyimak sampai habis tulisan ini.

Yap.
Pertama kali mendengar kalimat itu, mungkin aku juga sedikit merasa tersinggung. Bagaimana tidak, seharga nasi goreng? 

 
Woww...
Hmm.. kalimat ini pertama kali aku dengar saat aku mengikuti perkuliahan Pendidikan Kewarganegaraan di kampus.

Saat itu, dosen yang terkenal dengan disiplin itu tengah duduk di depan kelas.
Banyak cerita, beliau menceritakan pengalamannya selama menjadi dosen di tempat aku kuliah.
“Rata-rata, semua cafe yanga ada disekitar daerah ini sudah aku tongkrongi,” ujarnya memulai cerita yang belum kami tau temanya.
“Dan tidak sedikit pengalaman miris yang saya temukan,” beliau melanjutkan.

Suatu hari, ia dan kawannya datang ke sebuah cafe yang ada di kota Padang. Selang beberapa saat setelah ia duduk dan memesan menu yang ada di cafe tersebut, datang sepasang pemuda.
Layaknya pelanggan lainnya, dua orang muda-mudi tersebut langsung memesan menu yang mereka inginkan. Tapi tak biasanya, pelayan cafe hanya mengantarkan satu porsi nasi goreng ke meja mereka.

“Ternyata mereka memang hanya memesan satu porsi,” ujarnya di sela-sela ceritanya.

Lalu, si pria menyuruh wanitanya makan. Namun si wanita tidak mau. Dan tidak tinggal diam, mendapati wanitanya yang tidak mau menyuap nasi goreng tersebut, si pria pun menyuapi wanitanya.
“Dan kalian tau setelah itu apa yang terjadi?” ia bertanya kepada kami. 
Tidak ada jawaban. 
Kami semua diam, seakan terhipnotis dengan ceritanya dan menganggap pertanyaan beliau tak butuh jawaban.
Kami diam. Ia pun melanjutkan.

Mungkin baru sesendok Si pria menyuapi wanita tersebut, tangannya mulai bergerilya menyentuh wajah si wanita. 
Si pria membelainnya, dan wanita tersebut hanya diam.

“Miris kan?” ia bertanya lagi.
 Kami tetap diam.

Namun saya yakin, di antara kami ada yang diam-diam mulai bosan setelah menangkap isi cerita dari Si dosen, ada yang tersenyum kecut, ada yang tersenyum bangga, atau ada yang tengah menyesal. Saya tidak mungkin bisa membaca satu persatu perasaan mereka, tapi entah kenapa, saya berpikir mereka pasti merasakan itu.

Singkat waktu, akhirnya cerita tak berujung itu habis sampai di situ saja.
Tidak ada ending yang menggigit. 
Tidak ada wanita yang akhirnya mati bunuh diri seperti di serial drama Korea. Atau tidak ada pasangan yang akhirnya menikah dan hidup bahagia.

Cerita sederhana itu, ia tutup dengan lebih sederhana.
Kau para wanita, perempuan lebih tepatnya. Kata Si dosen. 
Apakah ia sedemikian gampangnya dirimu? 
Sebegitu murahnya kamu? 
Apakah tak sadar kamu begitu mahal dan berharga?  Apakah tak tau, jika kamu adalah sebuah berlian?

Hmm..... hening.
“Ok, di kelas saya, tidak ada mahasiswa perempuan yang duduk di depan mahasiswa laki-laki. Kalau saya temukan yang demikian, kalian bisa kena nanti”.

Ia mengakhiri ceritanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....