Menikmati Indahnya Destinasi Kawasan Mandeh
Kawasan
Mandeh memang menyimpan sejuta pesona. Landai pantainya nan lesi, birunya laut
yang menampakkan pucuk-pucuk terumbu karang, dan indahnya pulau-pulau yang seolah
memagari laut, akan membuat siapa pun berjanji untuk kembali kesana ketika
telah pernah menapakinya.*
Terik matahari yang
menyilaukan mata langsung menyapa saat saya dan rombongan turun dari kendaraan yang
kami tumpangi. Siang itu, cuaca cukup cerah. Menambah semangat kami untuk
segera mengitari tempat wisata yang baru-baru ini usai diresmikan oleh Menteri
Pariwisata.
Laut biru membentang
luas tepat berada di depan mata, saat kami meginjakkan kaki di Dermaga TPI
Carocok Tarusan. Dari dermaga ini, kami akan mengawali keberangkatan untuk
mengitari laut biru berdinding pulau-pulau indah di Kawasan Mandeh.
Setelah memilih rute
perjalanan, saya dan rombongan segera menyewa sebuah kapal untuk menghantarkan
kami menyapu laut biru yang tampak menantang. Aroma asin air laut pun mulai terasa
saat kapal yang kami tumpangi kian menjauh dari dermaga.
Tujuan kami kali ini
yaitu mengitari laut Kawasan Mandeh dan mampir di Pulau Kapo-kapo dan Pulau
Setan.
Sejauh mata memandang,
pulau-pulau tampak hijau dan saling sambung menyambung seakan menjadi satu. Jernih
dan birunya air laut yang menampakkan terumbu karang dengan aneka warna pun menambah
sedapnya pemandangan yang memberikan keindahan tersendiri bagi siapa pun yang
memandanganya.
Gelombang laut yang
tidak tinggi memberikan kesempatan kepada kami untuk lebih menepi. Kapal yang
kami tumpangi melaju lambat dan menyisiri bibir-bibir karang beserta pantai
yang ditumbuhi tanaman bakau. Sepanjang laut yang kami telusuri, kami melewati
pulau Cubadak, Pulau Pagang dan Pulau Traju, hingga akhirnya kami berlabuh di
Pulau Kapo-kapo.
Untuk dapat berlabuh di
Pulau Kapo-kapo, kami terlebih dahulu harus menelesuri hutan bakau yang lebat.
Sekitar dua ratus meter menyibak hutan bakau, kami pun dapat menepi di Pulau
Kapo-kapo.
Pulau Kapo-kapo merupakan pulau kecil yang masih menyambung dengan
pulau Cubadak. Dua puluh kepala keluarga telah menghuni pulau ini dari puluhan
tahun lampau. Pulau Kapo-kapo pun memaparkan keindahan yang tidak kalah dari
pulau-pulau di sekitarnya.
Usai singgah di Pulau
Kapo-kapo, kami melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya kapal kami kembali
menepi dan bersandar di bibir pantai Pulau Setan. Bak hutan suci, Pulau Setan
belum tersentuh oleh modernisasi semacam apapun. Pulau tak berpenghuni itu
masih berbentuk hutan yang belum pernah dirambahi. Hanya beberapa pedagang
makanan yang setia menunggu, untuk menemani setiap wisatawan yang mampir di
pulau itu.
Lautnya nan tenang
dengan pantai yang landai, menarik siapa pun untuk berenang dan berlama-lama
menikmati damainya berendam di sana. Begitu pun saya dan rombongan. Setelah
matahari terbenam, kami pun beranjak dari pulau itu dan kembali ke dermaga. Pastinya
usai mengabadikan kenangan yang telah kami ukir seharian di kawasan wisata Mandeh.
Oleh: Sri Gusmurdiah
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu, 6 September 2015
Komentar
Posting Komentar