Bukan Hadiah Perpisahan, Bukan Pertemun yang Terakhir


        Mentari meninggalkan sisa-sisa pagi dengan naik sejengkal lebih tinggi. Tak seperti biasanya, pesan-pesan kau mulai menghujani ponselku. Wajar aku berpikir demikian, karena setahun belakangan, kau memang agak sedikit jauh dariku. 
Jauh dalam artian apa? aku pun merasa kesulitan jika harus menjelaskannya padamu. 
Yang pasti, kita tak lagi seperti dulu. 
Sejak setahun belakangan.



Biasanya, kau memang selalu menghubungiku tiap kali ada yang kau mau. Bukan maksudku untuk menyindirmu, tapi memang begitulah adanya. Seakan aku adalah orang pertama yang kau ingat ketika masalah kuliah menghantuimu. Dan mungkin, aku pun juga begitu. Padamu.
Namun kali ini apa?
Entahlah.
Kau sepertinya tak lagi membutuhkan bantuanku. Kau sudah alumni dari universtas ini. Tak ada lagi kuliah. Tak ada lagi tugas-tugas yang harus ku bantu dan kita kerjakan bersama. 

Aku sempat berpikir demikian, dan hendak menanyakannya padamu.
Namun terlambat, ternyata kali ini bukan kau yang membutuhkanku ketika kau menghubungiku. Justru aku yang meminta bantuan duluan ke padamu. Sebelum kau jelaskan apa maksudmu menghubungiku.
Mungkin aku keceplosan, atau momennya yang terlalu tepat. 
Aku memang sedang membutuhkan bantuan seseorang. Bahkan aku tidak berpikir panjang lebar, siapa yang harus membantu. Dan kebetulan ada kamu.

Kau setuju, kita menyepakati. Kau tunggu aku di tempat biasa kita bercengkrama dulu. Mengahabiskan waktu, membolak-balik buku.

Seperti sebelum-sebelumnya, senyum hangatmu menyambutku tiap kali kita bertemu. Tanpa banyak cerita, kita langsung menuju tempat itu. Menaiki tangga yang tak terlalu tinggi. Namun tak layaknya dulu. Entah perasaanku saja, atau memang kau yang sekarang telah berbeda.

Diammu. 
Kau tak lagi banyak bicara, apalagi tertawa. Kau sedikit tenang, itu yang aku tangkap darimu. Kau lebih dewasa. 
Masa?

Ketika memasuki ruangan itu, kau yang melangkah di belakangku tiba-tiba berhenti. Aku pun ikut berhenti dan menatapmu bertanya.
“Ambil di dalam tas ku,” ujarmu.
Aku pun semakin tak pahan. Namun tetap menurut.
Ku buka tas yang berada di punggungmu.
Dan ternyata... aku terkesima. 
Sebuah bingkisan warna kuning dengan motif bunga tulip merah kau simpan di sana.
“Oh my Good, kado untukku kah?” ucapku sedikit terperangah. 
Jujur, aku tak menyangka sebelumnya.
Sesaat sebelum bertemu, kau hanya berucap ingin menagih traktiran dariku. Karena memang, aku baru saja melewati tanggal kelahirannku beberapa hari lalu.
         Tapi ternyata tidak. Kau menyiapkan sesuatu untukku.
         Inikah alasanmu menghubungiku? Entahlah.
Aku keluarkan kado itu, lalu menyimpnnya di dalam tas hitamku.
Namun sayang, ternyata tas hitamku tak sanggup menampung kado pemberianmu. 
Dan dengan terpaksa, aku memasukkannya lagi ke dalam tas mu. 
Kau hanya menyambutnya dengan tertawa.

Menit berlalu, kau dan aku yang tadinya sibuk memilih buku-buku, kini tak tau hendak mengapa.
Usaikah?
Dan ternyata tidak. Kau benar-benar menepati janjimu.
Menagih makan siang gratis dariku. Hmm.
            Sekali lagi, kita menyepakatinya.
Kau berjalan di belakangku. 

Kali ini, sebanyak butiran nasi yang kau suap ke mulutmu, sebanyak itu pula cerita yang kau sampaikan padaku. Namun bukan bernostalgia. Karena aku tau, kau bukan orang yang suka menarik-narik waktu yang telah berlalu.
Kau bercerita tentang wisudamu, surat lamaran kerja, tentang panggilan wawancara, proses wawancara dengan berbagai kejadian yang kau alami, hingga bagaimana nanti jika kau diterima di sana.

Namun, kau tidak menyinggung sesuatu yang pernah kita bicarakan dulu. Bagaimana denganku jika kau jauh? Bagaimana jika aku merindukanmu? Kau tak mengungkitnya. Dan aku pun tak menginginkan itu.

Mungkin karena dulu kau telah menjawabnya. Tempatmu nanti dan tempat kita sekarang tidaklah jauh. Begitu katamu waktu itu.

OK, makan siang kita telah berakhir. Matahari pun tak lagi enggan untuk menyisir hari lebih jauh. 
Kau dan aku kali ini akan berpisah lagi. Tapi tak tau, perpisahan seperti apa.

Yang pasti, terimakasih untuk hari ini.
Terimakasih untuk kadonya.
Dan ku harap, ini adalah hadiah ulang tahunku, bukan hadiah perpisahan kita.
Dan jika pun ini adalah hadiah perpisahan, aku tetap berharap, ini bukan pertemuan kita yang terakhir.
Semoga waktu tak menua, dan janji-janji yang kita ucap dulu tidak hilang begitu saja.

Terimakasih Sahabat...



 (7/9)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....