Surat Cinta


(Bukan gue)


Gue masa kecil adalah seorang bocah yang gak pedean. Berbadan kurus, rambut pendek pirang, dan kulit kuning langsat (pucat). Satu lagi, mata gue bulat gede kayak bola pimpong. Sedikit pendiam dan cendrung takut dijahilin sama teman-teman.
Satu kelebihan gue waktu kecil, yaitu gue mulai menggenggam juara kelas sejak kelas empat esde. Gue merasa beruntung. Dibalik beribu kekurangan gue, ternyata gue masih memiliki satu kelebihan. Yap, nyokap melahirkan gue sebagai anak pertama dengan otak yang lumayan encer. Waktu itu gue yakin, masa depan gue pasti cemerlang. Uyee..

Gue pintar pelajaran matematika, agama, IPA, IPS,dan bahasa. (Ingat, itu dulu!)
Gue bisa bikin pantun, puisi, dan membuat surat cinta.**

Surat cinta. Waktu itu gue punya teman anak tetangga. Dia satu tahun lebih tua dari gue. Tapi di sekolah, gue adalah kakak kelasnya. Dia cantik. Tapi gak sepintar gue. Ahaha.. Sari namanya.

Sari tidak sepintar gue di pelajaran. Tapi soal berteman, dia beribu kali lipat lebih pintar dari gue. Dia disenangi banyak teman laki-laki, serta menyenangi banyak teman laki-laki.

Suatu hari. Sari cerita sama gue kalau dia sedang suka sama kakak kelasnya. Pastinya anak cowok itu satu kelas sama gue. Dan Sari meminta gue untuk menuliskan sepucut surat untuk kakak kelas pujaannya.
“Tolong tuliskan aku surat cinta dong Shi!,” ujarnya memohon.
Gue rada kasihan waktu itu. Wajahnya yang cantik kayak Artis Kirana Larasati, tiba-tiba berubah menjadi maling yang abis kena sikat warga, saat memohon ke gue. Akhirnya gue gak bisa menolak dan mengiyakan permintaannya.
“Ya sudah, nanti aku coba bikin,” ujar gue dengan senyum mesum kepadanya. 

Walaupun gue terlihat sedikit enggan waktu sari meminta ke gue. Sebenarnya dalam hati gue berteriak senang. “Yes, bakat gue bakal tersalurkan,” gue lompat-lompat sampai membentur lonteng.

Akhirnya dengan segenap tenaga, dari perasaan yang paling dalam, dan mengeluarkan seluruh kata-kata romantis versi anak esde, gue menulis surat yang diminta oleh Sari. Gue berharap, surat gue adalah surat paling romantis seantaro anak esde.

Yapp.. surat cinta selesai. Sari setuju-setuju aja dengan kalimat gue yang meraung-raung indah di dalam surat itu. 
“Simpan baik-baik! jangan sampai diketahui anak lain. Bisa mampus lo dibilang cewe gatal karena berani cinta-cinta di surat,” ujar gue ngingatin Sari. 
“Iya. Iya. Sekarang tugas kamu udah selesai, gak usah kawatir. Makasih ya,” balas Sari dengan cengengesan.

Perihal surat cinta itu sudah luput dari ingatan gue.
Sampai suatu hari ketika gue tengah duduk makan di kantin. Adik kelas gue, atau lebih tepatnya adek kelas Sari nyamperin dan ngomong ke gue. 
“Kakak tau nggak, kalau kak Sari ngirim surat cinta ke anak kelas kakak?” ujar anak bernama Yesi itu. “Ha?” gue bengong. Dalam hati gue mikir. Mampus gue dan kualat Si Sari. Kok ada anak lain yang tau tentang surat cinta itu. 
“Hmm.. surat cinta apa? Untuk siapa?,” gue pura-pura bego dan balik bertanya ke Yesi.
 “Ada kemaren, Yesi dapat di jalan. Tapi udah diminta sama anak kelas empat,” jawabnya. 

OH MY GODDDDDD.......

Gue teriak dalam hati. Kalau bisa gue bakal guling-guling dan kopral di lantai seandainya gak banyak orang di kantin waktu itu. 
Wuah, Sari sialan.. seluruh sekolah bakalan baca surat cinta romantis gueee.... Auuuoooooo...... gue teriak dan lari ke hutan. Eh, maksud gue ke toilet. Karena gue mendadak mencret mendengar berita itu.

Ternyata benar apa yang dikatakan Yesi.
Seisi bumi anak esde telah membaca surat cinta gue. Maksudnya, surat cinta Sari.
Karena isi surat cinta itu. Anak-anak ada yang memuji Sari. Tapi ada pula yang mencibir dan mencemoohnya dari belakang. 

Seperti rombongan yang sedang berjalan pulang bersama-sama dengan gue sekarang. 
“Eh, gila tu anak,” ujar yang satu. 
“Iya,iya. Gak punya malu,” kata yang lainnya. 
“Masih esde sudah bisa bikin surat gituan, cinta-cinta, romantis-romantisan. Dasar,” timpal yang satunya lagi. “Pasti gedenya menjadi orang yang gak bener,” ucap yang lain. 
“Hmmm.. masa depannya nanti kayak mana ya?” sambung..

Ukhhhkk.. gue langsung tercekek mendengar pembicaran teman-teman gue. Apa lagi ada yang bawa-bawa masa depan. Huftt..

Yang nulis itu surat gue, bukan Sari. Lo semua begoookkkk.. Masa depan gue udah ditakdirkan cemerlang, paham...!! Gue teriak dalam hati. Lalu guling-guling di aspal dan pura-pura mati. *Blheekkk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....