Wanita dan Anting (About Woman)
Anting? :)
Wanita (baca:aku) sudah
tidak memakai anting sejak kelas dua esem’a dulu. Mulanya aku masih memakai
anting walau terkadang hanya sebelah. Namun sejak mengikuti salah satu kelas
ekstra kurikuler bela diri di sekolah, aku memutuskan tidak memasang anting
lagi di telinga mungilku ini.
Selain gak suka
memasang emas di tubuhku (alasan trauma masa lalu), tidak memakai anting karena
juga dilarang guru bela diriku yang ku panggil sabam itu. “Bahaya, nanti
telinga kamu bisa putus, kalau jempol kaki lawanmu masuk ke anting itu” ucapnya
kala itu. Kebetulan, saat itu aku memakai anting berbertuk lingkaran.
Sejak saat itu, aku
tidak lagi memakai anting hingga sekarang. Bahkan sekarang aku sudah tidak
aktif lagi di olahraga bela diri.
Hmm.. sepertinya, jika
aku ingin memakai anting lagi, aku harus menindik ulang telingaku. Karena lubang
kecil yang dulua ada di sana, kini sudah bertaut kembali. Mungkin karena saking
lamanya aku tidak memakai anting.
Tapi, beberapa minggu
lalu, saat aku balik ke kampung (rumah orang tua ibuku). Aku mendapat
pertanyaan mengejutkan dari kakekku.
“Mana antingmu Si?”
beliau bertanya sambil menatap ke sepasang telingaku secara bergantian.
“Tidak kau jual kan, di
Padang?” sambungnya.
Aku sedikit syok
ditanya begitu oleh kakekku.
“Ha, anting? Bukannya Si
sudah tidak pakai anting sejak esem’a kek?” jawabku, dengan nada bertanya.
“Ia. Semenjak kelas esem’a, Si Sri memang
sudah tidak pakai anting lagi,” nenekku ikut menyela.
“Rasanya aku baru tahu.
Aku baru kali ini menengok kau tidak pakai anting,” ujar kakekku lagi.
“Si ndak pake anting,
kan karena ikut Taekwondo dulu kek. Lagian, kan pake jilbab. Tertutup. Pake anting
atau ndak, juga ndak bakal kelihatan,” ujarku.
“Wanita itu kalau gak
pake anting rasanya ada yang kurang. Tidak pantas. Masa iya wanita telinganya
seperti laki-laki. Tidak ada bedanya dong,” timpal kakekku sambil berlalu.
Ia sibuk mengaduk
kembali dedak-dedak untuk makan ayamnya yang sempat terhenti karena berbicara
denganku.*
Mendapati teguran
seperti itu, menjadi suatu pertanyaan juga bagi ku.
Untuk memuaskan rasa
ingin tahu itu, akhirnya beberapa hari yang lalu aku bertaya kepada salah satu
teman cowok ku di kampus.
“Bang. Menurut kau, ada
yang salah ketika wanita tidak memakai anting?” ujarku memulai.
“Jelaslah,” jawab cowok
yang biasa ku panggul Bang Jul itu.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Ya. Karena sama saja
mereka melawan kodratnya. Wanita itu memakai perhiasan seperti anting, biar
terlihat cantik dan ayu. Seperti wanita sesungguhnya,” jawabnya lagi.
“Jadi, kalau wanita
tidak memasang anting di telinganya, berarti dia melawan kodrat,” ujarku mengulangi
pernyataan bang Jul tadi.
“Lah, kalau laki-laki
yang memakai anting gimana tu bang?” pertanyaan ku yang kesekiannya muncul
lagi.
“Sama saja, laki-laki
itu melwan kodratnya,” jawab bang Jul dengan yakin.
“Menurut abang, laki-laki
yang memakai anting itu Cool, karena
mereka tidak takut melawan kodratnya. Begitu pula wanita. Wanita yang tidak
memakai anting itu tomboy, karena juga berani melawan kodrat wanita,”
pungkasnya.
“Hah, jadi
kesimpulannya, aku tomboy dong. Karena gak memakai anting,” pikirku dengan
begok di dalam hati.*
Masa Putri FIP tomboy.
Oh, NOOOoooo.......... !!!!!
(Putri FIP -Series 1)
Komentar
Posting Komentar