Kau, Si Pemendam Rasa
Menurutmu, diam-diam itu berbeda.
Ada getar berbeda yang kadang
membuat dadamu berdebar indah, namun kadang menyesakkan. Katamu.
Kata-kata
puitismu mengalir indah dan menghanyutkan. Kata-kata yang kau tulis dan kau
abadikan di blog pribadimu. Satu, dua, tiga yang ku baca, maknanya hampir sama.
Tulisan pendek, lima sampai sepuluh baris yang kau rangkai itu berisi tentang
rasa yang kau simpan rapat dalam hatimu. Tentang perasaan yang tak diungkapkan,
tentang cinta yang terpendam. Wuooh..
Setelah
ku pikir. Kau dengan keunikanmu, memang pantas melakukan itu. Kau yang senang
berteman dengan berbagai jenis bunga dan daun. Berbicara kepada ranting kering,
dan tertawa bersama ratusan seri film anime yang kau tonton. Rasanya memang wajar.
Tidak
heran jika kau lebih senang bercerita ke pada benda-benda ajaibmu. Dibanding
kepada milyaran manusia di sisi mu yang sulit untuk kau percaya. Elo, orangnya mah begitu. Hehe.
Sekali,
pernah kau berkata padaku. “Mbel, rancak
terpendendam tu mbel. Jadi punya banyak
ide buat nulis,” ujarmu malam itu. Kau yang sedang duduk di depan laptopmu,
asik menekan-nekan tombol keyboard.
Entah apa yang sedang kau tulis. Mungkin kau sedang curhat ke benda ajaibmu
yang satu itu. Hahaha... (Benar demikian mbel?)
Ah,
entahlah. Kau memang tak ada habisnya. Seperti perasaan terpendam mu itu.
Kau
simpan rapat di hatimu dan tak kau biarkan satu orang pun memiliki celah untuk
mengetahuinya. *
Tentang
kata-katamu malam itu, sampai saat ini masih ku pikirkan. Dan ternyata ada
benarnya juga. Menurutku.
Suka
sama seseorang, diam-diam menatap kagum kepadanya, karena takut ditolak, karena
gengsi, karena takut dibilang gak punya harga di*i, karena takut dikatain terlalu
emansipasi, lantas mendiamkannya. Dan ngungkapinnya ke tulisan. Hmm.. bukan ide
yang buruk.
Kali
ini, gue sepakat sama lo Gembel. Heh..
Gue
coba ya.. Mari menulis!!

Komentar
Posting Komentar