1995 (Part 1)


"Kau jangan berharap aku tahu siapa namanya. Apalagi tahu dimana dia tinggal atau siapa orang tuanya. Jangan pernah”.

1995....
Aku baru saja mengenalnya. Ketika ada perang di tempat dimana aku berdiam. Dia menarik tanganku, lalu merubah takdirku. Setidaknya aku tidak mati, walaupun aku mulai terombang ambing sejak hari itu. Memikirkannya.
Aku tidak menyebutnya sebagai pahlawanku. Apalagi malaikat pelindungku. Tidak.
Namun, aku tidak bisa memungkiri. Sejak saat itu dia mulai hadir. 
Dia sang 1995. Dia hadir disini. Dimana waktu takkan mampu untuk aku hentikan. Disaat malam mulai larut dalam angan. Dan dia mulai setia mengusik tidurku, melangkah bersama ke dalam mimpi. 

1995. Dia tidak bicara, tidak tersenyum, apalagi menyapaku. 
Mungkin dia tak pernah menyadarinya. Atau pura-pura tidak sadar. Dia telah hadir diberbagai sisi hidupku. Ada mata yang menatap dalam kepadanya. Mata ini. Dia yang tidak menyadari. Dia yang mulai menyibak takdir. Dia yang menyatu bersama bayanganku dikala senja berpadu. Datang dan pergi setiap kali hari berganti. 

1995. Namanya. Aku tidak pernah tau. Tidak sempat menanyakan atau mungkin tidak sanggup untuk bertanya, aku masih ragu. 
Namun, setiap kali menatapnya, ada aliran deras dalam dada, sesak dan menggetarkan. Ingin rasanya mengulang masa itu. Kala ada perang dan dia menyelamatkan ku. Menggenggam hatiku. Merangkul jiwaku.

Mulai berangan. Aku berfikir, apakah ini biasa saja, atau.. entahlah. Aku bertanya-tanya sendiri. Apakah dia datang lebih dulu dan lebih dulu ada disini. Ah, entahlah. Bahkan aku tak pernah tau dari mana dia datang. Memikirkan itu membuatku semakin berangan. Ya, semakin berangan tentang.. (Bersambung...)

Sri Gusmurdiah *
 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istilah Baru yang Wajib Dipahami Maba Saat Memasuki Dunia Perkuliahan

Kamu...

Jangan Pernah.....